|
|

Manajemen
Produksi Musik dari Quincy Jones, Kylie Minogue
sampai slank
Newsmusik Edisi
15 /
2000 – Tim
NewsMusik
Di
barat sana artis dikelola secara profesional, di
sini baru tahap belajar menjadi prof. Tapi
sampai sejauh mana peran produser musiknya?
Bagaimana juga kondisi di negeri kita?
Bertahun
lewat, dunia musik Indonesia percaya yang
namanya produser itu adalah istilah lain dari
cukong alias tauke atau majikan. Kata produser
pokoknya diyakini sebagai orang yang punya
perusahaan. Padahal, di belahan barat sana,
tepatnya di Amerika Serikat, istilah produser bisa juga ditempatkan untuk seorang musisi
yang sekaligus merangkap jadi arranger dan
komposer bagi sebuah rekaman. Dan istilah untuk
hasil kerja mereka biasa disebut sebagai
Produser Musik
Dari
jaman ke jaman produser musik punya peran bukan
semata-mata membuat sebuah lagu bagi penyanyi,
tapi juga membentuk citra bahkan membuat trend.
Kalau kita mau kilas balik, profesi sebagai
produser musik ini melekat untuk Quincy Jones
alias Mr Q, David Foster, Bernie Taupin, Dave
Grusin dan Larry Rossen bahkan Madonna pun
menjadi produser untuk albumnya sendiri. Para
produser ini bukan hanya bertangan dingin
melahirkan lagu untuk seseorang, namun juga
mampu mengoptimalkan kemampuan artis atau
penyanyi. Terutama dalam soal mendapatkan
ekspresi yang tepat, dus melakukan eksploitasi
atawa penggalian ciri khas
vokal dan memilih lagu yang paling pas
untuk artis yang diorbitkannya. Pada akhirnya
tanpa disengaja mereka bisa membuat trend musik
pada jamannya.
Dengan
kemampuan super itu,
Mr. Q piawai mencipta lagu untuk
banyak nama yang kini mendunia, baik
untuk nuansa musik pop maupun jazz. Antara lain
Aretha Franklin, George Benson, James Ingram.
Mr. Q menjadi sangat terkenal ketika membantu
Michael Jackson
mewujudkan Off The Wall dan Thriller. Ia
juga menjadi produser untuk acara amal We Are
The World. Sementara David Foster dianggap 'dewa'
penyelamat bagi perjalanan karir Earth, Wind and
Fire, Chicago, Lionel Richie, All For One dan
setumpuk nama lain, termasuk inspirator bagi
sukses karier The Corrs.
Sementara
Taupin, ada di balik kebesaran nama seorang
Elton John. Kemudian, Grusin dan Rossen,
membangun kerajaan GRP yang dihuni para jazzer
Dave Grusin, Lee Ritenour, vokalis Phil Perry,
Dave Valentine dan lain-lain. Para musisi GRP
ini pernah mendukung rekaman Jezz Karimata di
tahun 1990. GRP juga sangat sukses melepas
banyak rekaman bernuansa fusion kental, yang
menerobos lingkungan stasiun-stasiun radio
terkemuka di seluruh jagad raya, dan hadir di
beragam festival jazz internasional bergengsi.
Di
jaman awal 80-an ini pula, ada yang namanya trio
penulis lagu sekaligus produser beken. Nama
mereka top disingkat jadi SAW alias Stock,
Aitken, Waterman.
Kepanjangan dari Michael Stock, Matthew
Aitken dan Peter Waterman. Mereka inilah yang
menciptakan trend musik disco pop 'permen' atawa
pop riang dan manis untuk Kylie Minogue, Jason
Donovan dan Rick Astley.
Kylie
Minogue yang terkenal lewat
'I Sould Be Lucky' awalnya dikenal
sebagai bintang televisi lewat soap opera
Neighbours yang mendapat respon luar biasa di
Australia. Dan kemudian juga bisa menular
populer hingga ke Inggris. Kylie
yang juga muncul menjadi penyanyi, lantas
ke Inggris dan menyeberang pula ke Amerika. Dua
negara barometer musik dunia. Keperkasaan trio
SAW ini tereksploitasi habis-habisan untuk
nama-nama di atas plus Samantha Fox, Mandy, Mel
& Kim, Bananarama, Sabrina. Mungkin, seperti
juga orang-orang tua bilang, tak ada hari yang
tak tergantikan, pamor SAW pelan-pelan menyurut.
Kylie sendiri setelah
mencapai popularitas mendunia kemudian
memilih mencari produser sendiri.
Celakanya,
langkah ini bukan makin memperkuat namanya
di blantika musik dunia, namun justru
Kylie tidak bisa mengulang sukses awalnya
seperti ketika ditangani SAW. Terbukti, angka
penjualan album selanjutnya masih di bawah
penjualan albumnya bersama SAW. Mungkin benar
kata orang, mencari produser yang mampu mencium
maunya pasar, gampang-gampang susah. Bisa
terbukti sukses untuk orang lain,
belum tentu untuk diri sendiri. Kasus ini
sekali lagi terbukti dalam perjalanan Kylie
Minogue. Dalam album terbarunya,
bertajuk Light
Years, Kylie mencoba mendekati Brian
Rawling, produser bagi album terbarunya Cher
bertajuk Believe. Cher masuk kategori beruntung
saat ditangani Rawling. Saat melepas album itu,
penyanyi yang sudah memasuki usia kepala 5 ini,
tidak punya saingan dalam hal jenis musik dansa,
pun dalam hal persaingan dengan penyanyi lain
yang berusia jauh lebih muda. Sementara
Kylie
come back di tengah pasar musik dunia
didominasi cewek-cewek
usia bak mangga pentil. Seperti Mandy
Moore, Britney Spears, Christina Aguilera,
ditambah sejumlah penyanyi Latin yang terus
mengincar pasar musik dunia. Nah lo.
Di
Indonesia, perlahan tapi pasti juga terjadi
kemampuan menjadi produser musik. Erwin Gutawa
membikin album Badai Pasti Berlalu versi
lama menjadi karya monumental baru bagi
perjalanan karier Chrisye. Padahal, proposal
awal pembuatan album Badai Pasti Berlalu
dianggap nonsense disetujui oleh eksekutif
produsernya Musica, “Karena saya dan Chrisye
mengajukan cost produksi yang sangat tiggi untuk
ukuran rekaman di Indonesia, karena pamakaian
studio dan musisi Australia. Sewaktu proposal
itu disetujui, kami sendiri jadi kaget dan
terpacu untuk bekerja maksimal,” ujar Erwin
Gutawa, yang akhir November ini melepas album
Orkestra (instrumental)-nya pertama.
Jika
bentuknya band dan dikelola secara rame-rame,
jangan lupakan pula nama Eq Puradiredja dan
Heru Singgih yang sejak tahun 1994 membangun
Humania lalu membuat 2 album secara independen,
lalu baru di album ketiganya - Interaksi - Eq
dan Heru berada di bawah bendera EMI namun
keduanya tetap menjadi produser untuk album ini.
Bersama Indra Lesmana yang memproduksi album
Reborn, Humania membangun manajemen tangguh
bernama Swarabumi. Di 'perusahaan' ini sejumlah
musisi menanam modalnya untuk membangun 2 studio
rekaman digital. Satu di Cimacan, Jabar satunya
di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Hal
yang sama juga dikerjakan Slank lewat bendera
Slank Records, sejak album keempat. Peredaran
albumnya diserahkan pada Virgo Ramayana. Cuma
untuk sementara ini Slank baru memiliki studio
latihan pribadi, yang seringkali juga dipakai
oleh 'anak buahnya', para Slankers yang mau jadi
musisi.
Lalu,
jangan lupa pula pada Elfa Secioria yang
mengarahkan Elfa's Singers (termasuk untuk album
From Indonesia With Love yang berisi lagu-lagu
daerah untuk promosi pariwisata), mengantar
sukses Andien merebut predikat Best Singer
kategori Jazz di AMI Sharp Awards 2000 dan
Sherina. Lantas Dhani Ahmad memberi nafas untuk
Dewa 19, Reza dan belakangan merubah style
penampilan Denada. Sedangkan Yovie Widianto
memberi 'tenaga' bagi kelompok vokal Bening,
Dhea Mirella dan kini Yovie menyiapkan solo
album perdananya yang berisi sejumlah penyanyi
pendatang baru, untuk dilepas lewat major label
internasional Sony Music. Sohib Yovie yang
berbakat sebagai produser adalah Dody Is.
Bassist ini berada di belakang sukses rekaman
album Bukan Pujangga milik Base Jam dan merombak
album terbaru Shaden sehingga menjadi album best
selling. Dody Is saat ini sedang bekerja keras
membuat mengkilap bakat penyanyi belia Yogya,
Mitha Gayatri, “Saya harap, Mitha bisa lepas
dari image lady rocker yang sementara ini masih
terlihat nanggung, karena belum menemukan lagu
yang pas,” ujar Dody tentang penyanyi
asuhannya itu.
Di
luar itu, sejumlah penyanyi pun mendadak turun
menjadi produser bagi album mereka sendiri.
Lihat Titi DJ untuk album Bahasa Kalbu, dan
simak pula Krisdayanti untuk album
Mencintaimu. Atau Armand Mau-lana yang
turun menjadi produser bagi album isterinya,
Dewi Gita. Lalu Didi Rachman ikut menjadi
produser musik untuk solo album ketiganya,
Milikku yang medio November lalu diluncurkan di
Hard Rock Café Jakarta. Hal yang sama juga
terjadi pada kesadaran Mayangsari, yang menulis
90% lagu untuk album gresnya yang beredar akhir
Oktober.
Semua
penyanyi ini ternyata mengerti fungsi mereka
sebagai produser, “Aku menyiapkan sendiri
materi lagu, musisi, jadwal studio
sampai materi promosinya. Anang memberi
supervisi,” kata Krisda soal perannya sebagai
produser. “Awalnya sih hanya jealous sama
Anang, kok ia bisa berjam-jam kerja di studio,
menggarap musik. Eh, ternyata nikmat juga
mengalami trance sebagai produser macam itu,”
lanjut Krisda.
Khusus
untuk Titi, keberaniannya menjadi produser bagi
albumnya sendiri itu boleh disebut sebagai
langkah tepat nan jitu. Titi berusaha mencari
dan menemukan apa yang selama ini tidak tergali
di dalam dirinya. Pada akhirnya, ketika ia
menemukan pencarian tersebut, Titi bisa meraih
lebih banyak jumlah pendengar, bahkan merebut
penghargaan AMI 1999. Sebuah sukses langka yang
diraih sepanjang berkarier di dunia musik.
Apa
yang dialami Kylie Minogue di awal cerita,
ataupun yang dilakukan Krisda dan Titi DJ secara
samar namun pasti punya benang merah yang kuat.
Artinya, semua hasil dari apa yang mereka
kerjakan bermuara pada satu kata: manajemen.
Intinya adalah bagaimana si artis musik
mengelola sumber daya yang ada di dalam dirinya
secara efektif, untuk mencapai sasaran agar
musikalitas si artis bisa terus dikenal dan
diingat fans
mereka.
|
|