• Mancanegara
  • Asia Pasifik

 

 

SELEB DUTA DUNIA: Damai Dalam Pelukan Selebritis

Newsmusik Edisi 6 / 2000Baroc Mardian, hakim Moestaff, Andree Soeprodjo, Nini Sunny

Seorang public figure, entah dari bidang nyanyi, film atau profesi apapun, dan memiliki kredibilitas terpuji, laik dipilih organisasi dunia untuk melakukan kampanye internasional, yang langsung atau tidak ikut berjuang mengubah wajah dunia.

 

Banyak orang tahu, media massa cenderung memberi tempat terlalu besar pada isu politik dan gosip selebritis, sementara isu tentang penyelamatan manusia dan lingkungan kurang memperoleh tempat, pun juga kurang mendapat tanggapan dari masyarakat. Kamu mau bukti? Coba perhatikan, peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April lalu, terasa kurang terdengar gaungnya. Padahal di layar televisi sempat muncul iklan himbauan masyarakat yang isinya meminta sebaiknya pada hari itu tidak mengendarai kendaraan bermotor yang menimbulkan asap berlebihan. Agar udara punya sedikit waktu dan ruang untuk ‘istirahat’ dari menghirup asap ‘busuk’ da-ri knalpot pengguna jalan. Kebetulan saja hari itu jatuh pada hari libur. Tapi imbauan masuk akal itu, namun rasanya masih sulit dijalankan - terutama oleh orang kota. Pada akhirnya imbauan tadi cuma jadi barisan kata-kata kosong tanpa makna.

Seorang teman bilang, “Apa tidak sebaiknya imbauan macam itu dibuat dengan lebih menarik, misalnya, “katanya memberi usul, “Minta saja Rano Karno atau mungkin bintang milyader cilik, Joshua yang ngomong. Pasti kalimat imbauan akan diketahui masyarakat, karena gaungnya akan lebih kuat terdengar, bahkan bukan mustahil imbauan tadi ditindak-lanjuti dengan komitmen bertindak. “ Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Sarwono Kusumaatmadja dalam sebuah sarasehan tentang Peranan Media Elektronik dalam Meningkatkan Kesadartahuan Masyarakat mengenai Lingkungan, pernah menyebut bahwa; “Integrasi lingkungan dalam edukasi publik penting untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat. Tapi kesadartahuan saja tidak cukup, perlu ada informasi, peningkatan kemampuan dan akhirnya muncul komitmen untuk bertindak”.

Untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tadi, public figure atawa orang beken, (entah profesinya sebagai penyanyi, bintang sinetron, bintang film, bintang iklan) diyakini mampu menjadi media kuat yang memiliki daya pikat tinggi untuk menyuarakan dan menggugah masyarakat pada banyak hal. Terbukti organisasi dunia macam UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization = Organisasi dunia yang menangani pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan), UNICEF (United Nation Children's Fund = organisasi yang meng-himpun dana bagi kesejahteraan anak, maupun organisasi independen WWF (World Wildlife Fund = sekarang World Wide Fun for Nature, badan independen yang mengumpulkan dana dunia bagi pelestarian alam) juga memanfaatkan jasa selebritis dunia untuk mengkampanyekan program mereka.

Misi Dunia Lewat Kesenian

Badan dunia memiliki tanggung-jawab superberat dengan program mereka yang segudang. UNESCO misalnya, mereka harus banyak memasang perhatian mulai dari persoalan pemberantasan buta huruf, sampai memperhatikan dan mengurus seni budaya di seluruh pelosok dunia. UNICEF bolak-balik sibuk untuk meng-urus kesejahteraan ibu dan anak, sementara WWF berjuang mati-matian memberi informasi dan meng-galakkan pentingnya memelihara bumi dan lingkungan, sekaligus melestarikannya. Untuk menjalankan ratusan, ribuan bahkan jutaan program itu, organisasi internasional tadi juga mencoba masuk salah satunya lewat program dalam bentuk kesenian.

UNESCO misalnya, sekali waktu terpanggil menyelamatkan dan melestarikan berbagai kesenian dan seni pertunjukan tradisional yang terancam kelestariannya di seluruh dunia. Hal ini muncul setelah secara nyata terbukti, kaum muda lebih terpengaruh oleh budaya ‘pop’ ketimbang budaya mereka sendiri. Jika hal ini dibiarkan, ada kekhawatiran kesenian dan kebudayaan tradisonal akan hilang. Dengan persoalan semacam itulah UNESCO pada kurun tahun 90-an meng-inventarisir 161 macam rekaman audio seni pertunjukan tradisional di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hampir seperempat dari jumlah video itu dibuat dalam bentuk video. Rekaman video yang kabarnya dibuat dengan harga sekitar Rp 500 juta ini dibuat dengan tujuan ganda : pertama untuk melestarikan kesenian, kedua tayangan itu sebagai bagian dari seni yang ber-sifat edukasi dan informatif.

Tayangan dalam bentuk video dan (kemudian) disiarkan melalui televisi merupakan salah satu jalan 'pintas' yang jitu untuk menyampaikan misi badan dunia. WWF Indonesia tahun 1997 pernah memproduksi acara Bumiku Satu yang ditayangkan di RCTI. Program pendidikan tentang pelestarian alam dan lingkungan itu dikemas dalam format hiburan. Agus Purnomo Direktur Eksekutif WWF, pada waktu itu, menyebut Bumiku Satu dirancang sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pelestarian alam dan lingkungan. Ia juga mengharapkan tontonan tersebut menjadi sebuah tayangan alternatif; mendidik namun cukup entertaining untuk dinikmati! Empat video awal program tersebut mengambil tema; air, udara, energi dan hutan. Hasil penayangan video itu dinilai banyak pengamat televisi sebagai ‘kuliah mem-bosankan’ yang ‘ditelevisikan'. Dalam pengembangannya kemudian program ini baru rada terangkat lagi setelah melibatkan Nugie, penyanyi muda yang memang punya perhatian penuh pada lingkungan, dan mengekspresikannya lewat lagu-lagu yang termuat dalam album Bumi (1995), terjual 100.000 copies, Air (1996) terjual 160.000 copies, dan album Udara (1998).

Biar bagaimana pun harus rela diakui bahwa Indonesia dengan segala keterbatasan -- baik dana maupun keahlian menterjemahkan visualisasi - belum mampu membuat program acara ‘serius’ dalam bungkus entertainment, yang enak dinikmati tanpa terkesan menggurui, seperti layaknya tontonan sejenis yang muncul dalam Discovery Channel. Pada bagian ini, wajah cantik dan ganteng si pembawa acara, yang selalu didengung-dengungkan oleh para pemilik production house menjadi kunci sukses acara, bukan modal kriteria satu-satunya yang menjamin sebuah acara sarat misi bisa sukses di televisi. Kecerdasan, wawasan, seharusnya ma-lah jadi pilihan terdepan.

Mereka Top, Terhormat dan Terpuji.

Dari jutaan program panjang badan dunia ini, beberapa di antaranya membutuhkan public figure sebagai penyampai pesan. Pada bagian ini dari Indonesia tercatat nama Rano Karno sebagai duta UNICEF, sementara Dewi Yull juga untuk UNICEF, Palang Merah Internasional, Nugie (WWF) dan Sherina menjadi duta WWF sekaligus model untuk poster UNICEF. Asal tahu saja, badan dunia itu jelas nggak asal comot nama tenar. Satu contoh yang paling bagus ada pada yang namanya Rano Karno. Si Doel ini bisa menjadi duta UNICEF dari Indo-nesia, setelah direkomendasi empat orang nama besar dengan kualifikasi bergelar profesor pula, antara lain; Prof Dr Emil Salim, Mantan Menteri Kesehatan (alm) Prof. Dr. Adhyatma, Ibu Prof. Singgih, Ibu Prof Murprawoto. “Saat gue tahu diundang UNICEF bareng para pro-fesor, gue pikir gile banget, bisa mampus gue. Tapi belakangan gue tenang-tenangin hati, karena gue yakin mereka itu pasti merekomendasi gue untuk jadi duta,” ungkap Rano yang menjabat sebagai duta selama setahun sejak 4 Juni 1999 - 4 Juni 2000.

Sebagai lembaga besar, UNICEF jelas nggak asal pilih nama. Rano yang dinilai punya prestasi dan kredibilitas bagus. Kabarnya, pilihan terhadap Rano bukan semata-mata berkat popularitasnya yang melangit melalui sinetron si Doel. Tapi karena Rano punya perjalanan hidup yang mulus. “Dari kecil gue nggak pernah mau menyentuh yang namanya narkotika, gue bukan peminum, gue nggak pernah ta-hu drugs. Nah, bagian itu juga menjadi salah satu referensi UNICEF memilih. Jadi data tentang diri gue sejak gue umur 25 tahun itu sudah ada di UNICEF, gue juga kaget. Begitu di klik kok ada sederet file tentang diri gue. Gue jadi kecewa kenapa orang luar me-lakukan, orang kita sendiri nggak bikin,” ungkap Rano.

Di kawasan Asia hanya ada tiga negara yang memiliki duta UNICEF, seperti yang dijalani si Doel, eh Rano Karno. Dua negara lainnya dari Thailand dan Korea“ tapi, gue sendiri hanya duta UNICEF untuk Indonesia, bukan duta seperti Inggrid Bregman yang bertugas keliling dunia termasuk Afrika,” ujar Rano yang banyak muncul di televisi dalam kampanye Aku Anak Sekolah (AAS).

Sukses Membumi

Sekedar mengingatkan, iklan layanan masyarakat yang tergambar sangat membumi itu dinilai UNICEF sangat sukses. Di mata Kepala Perwakilan UNICEF untuk Indonesia - Malaysia Stephen J Woodhouse, si Doel sudah lebih dari sekadar berhasil menjalankan tugasnya sebagai duta UNICEF. “Keberhasilannya dua ratus persen, sebab bila ada orang bertanya pada saya tentang pe-kerjaan saya dan saya menjawab di UNICEF, spontan saya mendengar seruan “Oh Rano Karno, atau Oh Pak Steve kerja dengan Rano! Ia sudah identik dengan UNICEF,” puji Stephen seperti yang termuat di harian Kompas, 28 April 1999.

Menurut cerita Rano, keberhasilan AAS itu ke-mudian menjadi ‘tiket’ bagi Stephen untuk menempati posisi dan tugas yang sama, namun untuk ditempatkan di kawasan Eropa, dan sekarang tinggal di Jenewa, Swiss. “Rating Steve naik, karena program-program yang dicanangkan di Asia berjalan dengan baik. Dia juga menyayangkan kenapa saya tidak melanjutkan kerja sama dengan UNICEF. Saya bilang, saya tidak bisa melanjutkan tugas selaku duta, karena saya punya pekerjaan lain, punya tanggung jawab yang lain,” ungkap Rano lagi.
Sementara itu Dewi Yull yang diangkat menjadi duta UNICEF sejak 13 Januari 2000 punya tugas mulia; menghidupkan kembali Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di seluruh Indonesia. “Peranan Posyandu me-mang agak menurun sejak terjadinya krisis di negara kita. Sekarang UNICEF bermaksud mengembalikan fungsinya sebagaimana semula. Memberikan vitamin dan suntikan imunisasi periodik, agar anak kita sehat,”

Soal tugasnya memberi penerangan tentang Posyandu sedikit banyak sudah diperoleh Dewi Yull ketika ia berperan sebagai dokter Sartika dalam sinetron Dokter Sartika (1989). Sebelum ini, tokoh Mbak Sri dalam sinetron serial Losmen itu juga pernah diminta Palang Merah Internasional untuk mengingatkan kembali soal Konvensi Geneva tentang Hak Atas Kemanusiaan yang ditanda-tangani 50 tahun lalu. Alasan bisa terpilhnya Dewi Yull dalam dua organisasi internasional tersebut, menurut Dewi lebih disebabkan karena ia seorang public figure yang dikenal oleh masyarakat. Dimana sosok artis yang dipilih itu, “Harus yang dapat diterima oleh ma-syarakat dan berkesan down to earth,” tulis Dewi Yull melalui faksimail. Selain itu tentu tidak boleh dilupa-kan sosok Dewi sebagai artis mempunyai citra atau teladan yang positif bagi UNICEF.

Sepanjang setahun menjalin kerja sama sebagai duta Internasional Dewi menyebut, ia mendapatkan kredibilitasnya sebagai seniman menjadi naik lantaran ia dipercaya oleh lembaga internasional tersebut. Dewi memang tidak menyebut ada sejumlah ‘uang’ atas tugasnya sebagai duta. Sama seperti Rano Karno yang secara tegas, menyebut bahwa, “Nggak ada, kita nggak digaji. Kerja sosial aja. Nggak ada, keuntungan secara finansial nggak ada apa-apa. Tapi barangkali keuntungan secara internasional mungkin kita lebih dikenal. Ya, kalo istilahnya bercanda, namaku sudah ada di marmer PBB. Cuma itu aja. Jadi nggak ada gaji. nggak ada uang transport. Dan karena memang aku sendiri tidak berkantor di Unicef. Mungkin sebulan sekali kita meeting, bikin program apa, bikin acara apa, gitu aja,” ujar Rano serius. Rano mengaku ada beberapa rekan artis meng-kontaknya - Rano enggan menyebut nama mereka -merasa heran, kok mau-maunya Rano kerja tidak digaji dan tidak dapat uang transport. “Bahkan kadang-kadang kita juga harus membayar sendiri. Jadi kalau ada orang yang punya pikiran bahwa duta punya fasilitas mobil gaji besar, itu nggak benar. Cuma barangkali memang secara kredibilitas nama kita menjadi terhormat. Itu saja,” ungkap ayah dua anak ini. Rano lantas menyebut bahwa menjadi duta seperti dirinya adalah menjadi orang baik dalam tanda kutip. “Minimal, kita memberikan satu panutan yang baik kepada masyarakat yang dalam hal ini saya wakilkan, yakni anak-anak,” kata Rano. Ia lantas membuat ana-logi. Misalnya begini, “Saya ini perokok berat, tapi dalam Si Doel saya tidak merokok. Karena saya tahu Si Doel ditonton oleh anak-anak. Ini adalah konsekuensi yang harus kita pikul.”

Lain lagi dengan cerita Nugie. Awalnya ia tidak tahu alasan pasti mengapa WWF mengundangnya untuk aktif dalam kegiatan mereka. “Tetapi setelah saya berkonsultasi dengan mereka ternyata mereka melihat saya sebagai figur dari manusia biasa yang rencananya akan dibuat menjadi seorang Manusia yang luar biasa yang mencintai lingkungan hidup. Dari situ saya harus belajar bagaimana caranya agar saya dapat mencapai target tersebut,”ungkap Nugie yang orientasi lagunya selalu bicara soal alam, sosial dan kehidupan manusia. Nugie juga tidak tahu standar yang dibuat WWF ketika memilihnya. “Saya sendiri sempat bingung kenapa saya yang dipilih. Setelah saya coba tanya, ter-nyata mereka telah melakukan seleksi terhadap lagu-lagu yang saya nyanyikan. Hasilnya mereka sepakat kalau saya cocok membantu mereka menyuarakan program-program tentang lingkungan Kedua karena target mereka adalah anak-anak muda, maka mereka menganggap saya bisa memberikan pendekatan lewat lagu-lagu yang saya nyanyikan,” tambah pria yang gemar playstasion dan motor besar itu.

Menurut Nugie jalur musik rock alternatif yang dimainkannya sangat efektif untuk menggugah per-hatian anak muda. “Mungkin kalau target mereka untuk para orang tua…, ya saya bukan pilihan yang cocok. Jadi efektivitasnya diukur dari target WWF, yang me-mang ingin menjangkau anak-anak muda.” tambah Nugie lagi. WWF yang sangat anthusias dalam menyadarkan seluruh lapisan masyarakat untuk segera bertindak dalam melestarikan alam, juga memiliki target pada anak-anak. Sejak Februari 2000, WWF memilih She-rina untuk 'model' yang bisa dijadikan panutan bagi anak-anak. “Sehingga anak-anak menjadi aware ter-hadap kelangsungan hidup hewan langka, misalnya,” ungkap Triawan Munaf, ayah Sherina. 
Sheirina yang top dengan lagu 'Andai Aku Besar Nanti', bukan hanya diproyeksikan sebagai duta WWF di kawasan nasional, juga internasional. Tugas inter-nasional pertama Sherina sudah berlangsung, ketika ia ditemani ayahnya ditugaskan menjemput empat ekor orangutan di Kebun Binatang OJI di Kobe, Jepang. Mahluk itu akan direpatriasi oleh pemerintah Jepang ke Indonesia. Orangutan itu sempat menjadi berita saat disita dari tangan penyelundup yang membawanya dari Kalimantan.

Sejak album pertamanya yang diolah oleh Elfa Secioria meledak, Sherina bukan hanya diajak bergabung dengan WWF, tapi ia juga dipilih UNICEF sebagai bintang utama untuk iklan layanan masyarakat, dan juga dipakai untuk model poster pada Hari Pendidikan Nasional. “WWF sendiri yang meminta untuk mengekspose segala kegiatan yang berhubungan dengan mereka, baik dari media cetak sampai elektronik,” tutur Ayah Sherina yang mengaku sampai saat ini belum ada sistem kontrak yang mengikat Sherina. “Karena ada beberapa hal, sehingga sampai sekarang Sherina di WWF mau-pun di UNICEF itu istilahnya masih freelancer,” ungkap Triawan Munaf, yang mantan keyboardist grup rock Giant Step ini.

Sampai saat ini sang ayah melihat anaknya itu terkesan senang-senang saja dengan berbagai kegiatannya. “Sepertinya ia tidak merasa punya beban, malah saya sendiri sebagai orang tua yang merasa terbebani dengan kegiatan dia. Kesulitan-nya yang dialami Sherina sampai saat ini, saya pikir tidak banyak, hanya sekitaran pembagian waktu saja.”Ini memang problematik klasik anak-anak yang memiliki kegiatan ekstra kurikuler. Apalagi sampai menjadi duta dunia macam Sherina.

 

 

 

 

 

 

 

 

©2000 majalah NewsMusik.All Rights Reserved.
Created & Design by NewsMusik.net Development Team.
Comments, suggestions and critics please contact
webmaster newsmusik.net