

Jimi
Hendrix: Berkarir 4 Tahun, Dipuja 4 Dekade
Newsmusik Edisi
15 /
2000 – Roy
Aryanto
Perjalanan
karirnya sangat pendek, namun namanya punya
gaung sangat panjang. Bahkan hingga hari ini.
Dialah Jimi Hendrix. Usianya tidak sampai 28
tahun, tetapi masih tetap dipuja meski sudah 30
tahun ia meninggal dunia. Lahir di King
Country Hospital, Seattle, Washington pada 27
November 1942. Dengan nama Johnny Allen
Hendricks. Ia putra sulung pasangan Alex
Hendricks yang Afro-Amerika Meksiko dan Lucille,
seorang Indian Cherokee. Nama itu merupakan
pemberian ibunya, yang kemudian diubah oleh sang
ayah menjadi James Marshall Hendricks pada saat
Hendrix kecil berusia 4 tahun. Kedua orangtuanya
kemudian berpisah saat Jimi berumur tiga tahun.
Alex
yang bekerja sebagai tukang sapu, menghidupi
keluarganya dengan susah payah. Jimi kecil pun
sering membantu ayahnya menyapu, dan dengan sapu
itulah ia pertama kali bergaya bak seorang
gitaris. Ia sering menirukan gaya duckwalk khas
Chuck Berry. Sang ayah ternyata sering
memperhatikan sikap puteranya.
Pada
1952, saat Jimi berusia 10 tahun, sang
ibu wafat. Hal ini membuat Jimi sangat terpukul
dan menjadi anak yang pemurung. Alex sebagai
seorang penganut agama yang taat, mengajarinya
untuk tabah. Ia sering mengajak Jimi ke gereja
dan ikut dalam paduan suara. Tetapi itu rupanya
belum cukup untuk menghibur Jimi.
Karena
kasihan melihat Jimi yang tak kunjung berhenti
bersedih, ayahnya membelikan Jimi sebuah gitar
akustik sebagai hadiah ulang tahun ke-12. Gitar
itu dibeli dari seorang kawan ayahnya itu
seharga 5 dollar. Gitar itu kemudian dibalik
susunan senarnya oleh Jimi yang kidal, sehingga
ia dapat memainkan gitarnya dengan tangan kiri
memetik senar, sedangkan yang kanan menari di
atas fretboard.
Dengan
bermain gitar, Jimi mulai dapat melupakan
kepedihan ditinggal ibunya. Apalagi tiga bulan
kemudian, Jimi dibelikan lagi sebuah gitar
listrik Supro Ozark 160S oleh Alex. Eksplorasi
musiknya pun menjadi lebih luas dengan gitar
tersebut dan Jimi membentuk bandnya yang pertama
Velvetone.
Sepanjang
masa remaja itulah Jimi terus berlatih memainkan
gitar. Ia sempat dikeluarkan dari sekolahnya
Garfield High School gara-gara kebandelannya
mengganggu para ceweq. Setelah putus sekolah, ia
malah bisa lebih konsen membantu sang ayah. Dan
tentunya ia juga lebih banyak mempunyai waktu
untuk mengulik gitar.
Jimi
punya kegemaran mendengarkan album milik musisi
blues beken seperti B.B. King, Elmore James dan
Muddy Waters, ataupun para rock n' roller
seperti Chuck Berry dan Eddie Cochran. Lagu
'Rock And Roll Music' dari Chuck Berry termasuk
lagu yang paling sering dibawakan Hendrix.
Bahkan kemudian B.B. King memberi penghormatan
kepadanya dengan mengabadikan nama ibu Hendrix,
Lucille pada gitar Gibsonnya.
Masuk
Militer
Jimi
mulai berkarir di musik tahun 1960, saat
ia menjadi anggota sebuah band bernama Rocking
Kings dan mulai sering manggung di tempat konser
seputar Seattle. Walaupun sudah mulai menarik
perhatian para pencinta musik, ia tampaknya
belum bisa menunjukkan totalitasnya karena
setahun kemudian ia malah kena wajib militer dan
bergabung dengan angkatan darat di Fort Ord,
California.
Kemudian
ia ditempatkan di 101st Airborne Paratroopers di
Fort Campbell, Kentucky sebagai pasukan penerjun.
Saat inilah ia bertemu dengan Billy Cox, seorang
pemain bass berkulit hitam yang cukup disegani
di kalangan musisi blues pada saat itu. Mereka
sempat bermain di dalam band angkatan.
Dikarenakan
cedera pergelangan kaki saat penerjunan yang ke-
26 kalinya, Hendrix kemudian diminta
meninggalkan angkatan. Hikmah dari kejadian ini
---seperti kemudian dikemukakan Hendrix ---
adalah ia jadi tidak perlu ikut dalam perang
Vietnam yang meletus beberapa tahun kemudian. Saat
itulah ia kembali bergabung dengan bekas
teman-teman bandnya dan membentuk Bob Fisher
& The Barnevilles. Mereka kemudian
menjadi band pembuka untuk beberapa musisi untuk
tour Amerika sebelum Hendrix kemudian pindah ke
Vancouver, Kanada.
Tahun
1963, Hendrix pindah lagi ke Tennessee,
dan di kampungnya Elvis Presley ini, ia bermain
dengan sederet nama top waktu itu seperti Little
Richard, Hank Ballard dan The Supremes. Ia juga
ikutan di dua single-nya Lonnie Youngblood.
Sayang,
ia tidak sempat membuat kerja sama dengan Elvis.
Tetapi ia sering menampilkan hit dari sang raja
itu, yaitu 'Hound Dog' dan bahkan sempat pula
merekamnya. Tentunya dengan versinya sendiri
yang penuh teriakan dan geraman terutama di
bagian chorus-nya.
Merasa
kurang bisa mengembangkan karirnya, Hendrix
pindah lagi dan kali ini ke New York. Di kota
Big Apple itu, ia bermain bersama dengan Isley
Brothers, sepanjang tahun 1964,
termasuk untuk rekamannya di studio. Ia juga
berkolaborasi dengan penyanyi soul Curtis
Knight.
Knight
kemudian menulis lagu 'Ballad Of Jimi' yang
ditulisnya pada 1965, setelah Jimi berkata
padanya bahwa ia (Jimi) akan mati lima tahun
lagi. Tahun itu juga Hendrix menjadi anggota
band pendamping Little Richard dan sering
berkeliling di panggung- panggung seputar New
York, salah satunya adalah Paramount Theater.
Sebagai
musisi pendukung, tentu saja Hendrix kurang
dapat mengekspos kemampuannya bermain gitar
secara maksimal. Bahkan Little Richard pernah
menyuruhnya melepas pakaiannya yang dinilai
terlalu mencolok. Dan menggantinya dengan
pakaian yang sudah dipersiapkan bagi musisi
pengiring.
Menjadi
orang kedua tentunya bukanlah harapan Hendrix.
Tidak bisa menonjolkan diri dan dengan bayaran
kecil membuatnya tertekan. Suatu ketika ia
berjalan-jalan bersama pacarnya Jeannette
Jacobs, ia menunjuk pada baju-baju bagus di
etalase sebuah toko. Ia bilang pada Jeannette,
”Jika saya terkenal nanti, saya akan belikan
kamu baju seperti itu.” Jeannette tersenyum,
tidak yakin hal itu akan jadi kenyataan. Karena
saat itu Jimi sendiri hanya memiliki dua potong
kemeja, dua celana dan sepasang sepatu butut.
Pada
tahun berikutnya 1966, Hendrix mulai
menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Ia
membangun bandnya sendiri, Jimmy James &
The Blue Flames. Saat main di Café Wha! di
Greenwich Village, New York pada bulan Juni,
penampilannya dikagumi oleh Linda Keith. Linda
yang pacar gitaris Rolling Stones, Keith
Richards itu, tak lama kemudian mempertemukannya
dengan bassis grup Inggris The Animals, Chas
Chandler. Chandler pula yang mengusulkan
mengganti nama Hendricks menjadi Hendrix. Ia
kemudian mengajak Hendrix mengembangkan karir di
London.
Ke
Inggris? Tempat para jawara gitar itu? Hendrix
sempat ragu. Selain Keith Richards, di Inggris
bercokol para gitaris hebat seperti George
Harrison (The Beatles), Pete Townsend (The Who)
dan tiga gitaris jebolan Yardbirds: Jimmy Page
(Led Zeppelin), Jeff Beck dan Eric Clapton
(Cream). Hendrix minder untuk bertemu dengan
Richards dan yang lainnya. Tetapi bilang pada
Chandler ia ingin juga bertemu dengan Clapton.
“Tidak
ada masalah dengan Richards,” kata Chandler.
“Pacarnya sendiri yang merekomendasi kamu,”
tambahnya. “Dan jika Clapton mendengarkan
permainan kamu, maka dialah yang ingin bertemu
kamu.” Chandler meyakinkan Hendrix. Dan
walaupun membutuhkan waktu lima minggu untuk
berpikir, ia pun akhirnya setuju. Maka, setelah
mengurus berbagai macam keperluan, berangkatlah
keduanya ke London.
Setiba
di London pada 24 September 1966,
Hendrix yang sebenarnya masih ragu, diajak
Chandler ke kafenya Zoot Money. Di kafe yang
merupakan tempat nongkrong para musisi itu,
Hendrix sempat ber-jam session dengan pemusik
setempat. Akhirnya --- setelah bermain sekitar
dua jam --- Hendrix menemukan kepercayaan
dirinya dan merasa akan cocok berkarir di
Inggris.
Chandler
kemudian mengajak Hendrix berkeliling dari
tempat satu ke tempat lainnya. Ia yang cukup
ngetop bersama The Animals, banyak kenal dengan
para musisi dan pemilik klab. Hal ini banyak
membantu Jimi mendapatkan kesempatan untuk
manggung. Di klab Blaises
tempat Hendrix bermain, ia dilihat oleh Johnny
Hallyday yang saat itu merupakan penyanyi top di
Perancis. Ia kemudian bernegosiasi dengan
Chandler membicarakan kemungkinan kerja sama.
Akhirnya diperoleh kesepakatan yaitu, Hendrix
akan membuka konser Johnny. Tetapi Hendrix
merasa harus memiliki band sendiri.
Di
London, Chandler lalu mencarikan Hendrix dua 'pengawal'
tangguh untuk posisi drums dan bass. Ia
mendengar bahwa penggebuk drum Mitch Mitchell (lahir
John Mitchell, 9 Juni 1947) keluar dari Georgie
Fame's Blue Flames. Maka direkrutlah Mitchell
mengisi posisi tersebut. Tinggal posisi pembetot
bass yang masih lowong.
Saat
itulah, Noel Redding (lahir David Redding, 25
Desember 1945) yang mengikuti audisi untuk jadi
gitaris The Animals, ditawari jadi pemain bass
bersama Hendrix. Karena posisi gitaris dalam The
Animals sudah terisi, dan menyadari persaingan
sebagai pemain gitar terlalu ketat, ia setuju
untuk jadi pemain bass dan menerima tawaran
tersebut.
Mitchell
merupakan seorang aktor cilik untuk iklan TV,
sebelum memutuskan menjadi musisi pada saat
remaja. Ia sangat menyukai permainan drum dari
Buddy Rich dan Gene Kruppa. Sedangkan Redding
yang jebolan sekolah seni, pernah bermain dengan
Modern Jazz Group dan Loving Kind. Pada
September inilah Hendrix sebenarnya baru ikutan
mengubah namanya dari Jimmy menjadi lebih
sederhana, Jimi.
Lahirlah
Legenda Itu
Mereka bertiga
membuat band Jimi Hendrix Experience yang
kemudian melegenda. Itu terjadi pada Oktober
1966. Saat di mana karir Hendrix yang
sesungguhnya baru dimulai. Penampilan pertama
mereka adalah ketika menjadi band pembuka dari
penyanyi Perancis Johnny Hallyday yang manggung
di Paris Olympia pada tanggal 18 bulan yang
sama.
Tetapi
demi penampilannya di Paris, Hendrix membutuhkan
peralatan yang lebih hebat. Ia memerlukan ampli
yang lebih besar dengan daya lebih kuat. Maka,
Chandler pun menjual dua buah bass-nya ---
Fender Precision dan Gibson EB ---untuk membeli
Marshall Supro yang kemudian menjadi trademark-nya
Hendrix.
Sebulan
kemudian mereka --- untuk pertama kali sejak
bertrio --- masuk studio. Mereka merekam lagu 'Stone
Free' ciptaan Hendrix dan 'Hey
Joe' karya Billy Roberts dan pernah
dinyanyikan oleh Tim Rose.
Kedua lagu tersebut digarap di De Lane
Lea Studio, London.
Sayang
ketika itu mereka masih sepi tawaran manggung.
Sedangkan mereka harus membiayai hidup dan sewa
studio. Sekali lagi Chandler harus merelakan
koleksi bass-nya. Kali ini sebuah Fender Jazz
Bass dan sebuah Fender Precision dilego. Ia pun
bertekad, pengorbanan ini harus menghasilkan
sesuatu yang hebat di kemudian hari.
Harapan
itu sedikit demi sedikit mulai terwujud. Pada
November mereka bermain selama empat hari di Big
Apple Club, Munich, Jerman. Mendapat bayaran 300
pounds, mereka mulai bisa membiayai hidup. Dan
Chandler terus berusaha agar Jimi Hendrix
Experience bisa lebih diliput oleh pers.
Hendrix cs.
mendapat kesempatan jumpa pers pertama pada
tanggal 25 bulan itu juga. Bertempat di klab Bag
O' Nails, London, mereka menampilkan repertoar
yang biasa mereka bawakan. Termasuk tentu saja
'Hey Joe' dan 'Stonefree'. Kalangan pers
menanggapi positif penampilan mereka.
Memasuki Desember, Hendrix menandatangani
kontrak empat tahun dengan Yameta Company, suatu
perusahaan manajemen artis. Akhirnya single
pertama 'Hey Joe' dirilis oleh Polydor setelah
sebelumnya ditolak oleh Decca. Mereka bertiga
lalu tampil di acara TV untuk pertama kalinya di
penghujung tahun 1966 itu.
Sayang pada malam
Tahun Baru 1967, mereka tidak mendapat tawaran
panggung. Untungnya, Redding mempunyai gagasan
bagus. Ia mengajak Hendrix dan Mitchell bermain
di kampung halamannya, Folkestone, sebuah kota
kecil dekat London. Dan ia yang memiliki banyak
kerabat di kota itu tanpa banyak kesulitan
mendapatkan job.
Mereka berangkat
naik kereta di dalam cuaca dingin. Tetapi hal
itu tidak membekukan semangat mereka tampil di
kafe Tofts. Apalagi orangtua Noel juga
menyediakan tempat menginap bagi mereka plus
sang manajer. Penampilan mereka di kafe Tofts
itu paling tidak cukup untuk menghibur diri
mereka sendiri.
Menjadi
Besar
Memasuki Januari
1967 keadaan sudah mulai membaik. Walaupun
sempat 'terpaksa' bermain di klab-klab kecil
seperti Ram Jam dan Ricky Tick, mereka ma-sih
sering mendapat kesempatan tampil di Scotch of
St.Thomas dan 7 ½ Club. Bahkan kadang di klab
yang terletak di White Horse Street, Mayfair,
London itu, penampilannya ditonton oleh musisi
terkenal seperti Paul McCartney, Pete Townsend
dan Mick Jagger.
Bintang-bintang top
itu ternyata menyukainya. Mereka sering bilang
pada pers, bahwa mereka kagum pada penampilan
Hendrix. Dan hal itu tentunya merupakan
keuntungan publikasi yang besar bagi Hendrix dan
dua sohibnya. Karena kala itu, penyataan dari
para personel The Beatles, The Who dan Rolling
Stones merupakan 'santapan wajib' yang harus
diyakini oleh para pencinta musik di seluruh
dunia.
Akhir bulan itu,
Jimi Hendrix Experience tampil di Saville
Theater, London sebagai grup pembuka The Who.
Kesempatan ini diperoleh juga atas permintaan
Townsend. Tentu saja hal ini tidak disia-siakan.
Dan Hendrix pun membuktikan bahwa mereka memang
patut untuk diperhitungkan.
Pete Townsend yang
kala itu merupakan gitaris dengan aksi panggung
yang hebat, malam itu mendapat 'saingan berat'.
Tahu bahwa Townsend akan melakukan atraksi
khasnya seperti memutar gitar di udara, Hendrix
melakukan atraksi yang lebih hebat. Tetap dengan
cirinya seperti memetik senar pakai gigi,
menggesekkan senar ke punggung atau
menendang-nendang gitar. Tapi kali ini dengan
gaya lebih agresif.
Pada bulan Februari,
single 'Hey Joe' mendaki di nomor enam pada
chart Inggris. Hendrix pun semakin terkenal
dengan gayanya yang liar.
Pers
juga sering mengekspos hal tersebut. Sementara
itu mereka bertiga masuk studio lagi untuk
menyelesaikan penggarapan album penuh. Album itu
dikerjakan di Olympic Studios, Barnes, London.
Sepanjang bulan
Maret tahun itu, mereka mengadakan pertunjukan
keliling Eropa. Dimula di Twenty Club di
Mouscron, Belgia dan 20 Club, Lille, Perancis
lalu dilanjutkan ke klab legendaris yang juga
melahirkan Beatles, Star Club di Hamburg, Jerman.
Balik ke Inggris,
Jimi Hendrix Experience tampil pada acara “Top
Of The Pops”di BBC1-TV. Saat tour kelling
Inggris itu, mereka sempat sepanggung dengan Cat
Steven, Walker Brothers dan Engelbert
Humperdinck. Gaya agresif Jimi sempat membuatnya
celaka. Waktu ia membakar gitarnya, tangannya
ikutan terbakar. Ia pun dilarikan ke rumah sakit.
Kejadian lain yang
tidak mengenakkan adalah ketika mereka habis
bermain di New Century Hall, Manchester. Mereka
menjadi korban salah sasaran dari oknum polisi
setempat yang sedang razia anak di bawah umur.
Ketika mau masuk ke dalam sebuah klab, mereka
ditolak. Noel dan Mitch sempat ditarik polisi,
mereka melawan dan mendapat beberapa pukulan.
Jimi terhindar dari perlakuan tersebut karena
memperlihatkan paspor Amerika. Untunglah keadaan
bisa diatasi karena turun tangan sang manajer.
Tidak berapa lama
Hendrix sembuh dari luka bakarnya pada bulan Mei,
single 'Purple Haze' dilepas ke pasar. Sempat
menduduki tangga ketiga pada chart, single
tersebut segera disusul oleh album pertamanya,
Are You Experienced?
Album ini segera menyita perhatian
pencinta musik dunia dan nangkring di posisi
kedua pada chart selama 33 minggu.
Jimi Hendrix Experience mengadakan tour
Eropa dimulai di Neue Welt, Berlin, Jerman.
Walaupun sempat kaget terhadap respon penonton
Jerman yang kalem, mereka terkesan dengan
pengetahuan publik Jerman tentang mereka. Dan
tour pun berlanjut ke Denmark, Belanda, Perancis
dan negara-negara Skandinavia.§
|