Arie
Ayunir: Terbang ke Amerika
Selebriti, Newsmusik Edisi
7 / 2001 – Gideon
Momongan Satu musisi lagi bakal segera 'raib' dari bumi Indonesia. Kepergiannya boleh saja ditangisi. Lantaran musisi kayak dia, terus terang memang nggak banyak. Apalagi dengan kualitas permainan se level dia. Untuk kenang-kenangan, Arie Ayunir pun meninggalkan rekaman live. Dia teman saya sejak SMU di Surabaya,” kata Budjana dari atas sebuah pentas
musik. “Agak sulit menemukan teman satu grup yang pas dalam
selera. Saya dan Arie sudah klop sejak SMU. Dan saya nggak pernah kepikiran main dengan drummer lain. Setelah sekian lama trio ini
ada, kami bertiga terus. Saya, Arie dan Bintang. Kalau salah satu dari dua teman ini
berhalangan, mending nggak jadi main,” terang Budjana seusai
pentas.
I Dewa Gede Budjana, memang telah bersekongkol dengan Arie Ayunir sejak 1980-an. “Saya klop kalau ngomong tentang musik dan main musik dengan
dia. Enak aja. Kalau kami ketemu satu lagu, lantas mainin sama-sama, prosesnya
cepat. Soalnya kami sudah saling tahu satu sama lain.”
Lewat Squirrel Band, yang personelnya kebetulan satu sekolah di Surabaya, dan berhasil menjuarai kontes band
bergengsi, Light Music Contest 1984, Budjana dan Arie hengkang ke ibukota seusai
SMU. Bertemu lagi, sepakat mem- bentuk band. Jadilah trio dengan mengajak Bintang
Indrianto. “Hampir lima tahun trio ini
terbentuk. Kami sering latihan tapi nggak muncul-muncul di
pentas. Belum dapat job sih. Tapi ya kami sih asyik-asyik
aja,” ungkap Budjana senyum.
Efisien dan Efektif
Lantas dalam pengembaraannya di ibukota, tepatnya setelah ia menuntaskan studi di Miami, AS, Arie pun “ditemukan” Riza
Arshad. Arie langsung digaet untuk membentuk grup
baru; Dialog. Di sini keduanya ditemani Jeffrey Tahalele dan Dewa
Budjana. Sayangnya hanya sesaat!
Tapi kedekatan Ija, panggilan akrab Riza, dengan Arie tetap terjaga. Keduanya merasa klop. Maka formasi Dialog dilanjutkan dengan mengajak serta Tohpati dan Indro Hardjodikoro. Jadilah Simak Dialog. Grup muda ini menjelma menjadi sebuah kelompok jazz yang berbeda, sekaligus nekad! Ya bagaimana nggak nekad. Soalnya mereka tidak memainkan pop, tidak melirik rock, lha malah jazz!
Buat Ija, Arie adalah soul-mate yang pas. ”Sama kayak
Budjana, saya menganggap Arie adalah teman main musik yang sama
seleranya. Tipikal permainannya pas banget buat masuk di musik Simak Dialog. Dia sudah memegang sebagian dari jiwa grup
ini. Mainnya efektif dan efisien. Lagi pula, Arie cepat menangkap keinginan
saya.”
Dan asal tahu saja, ungkap Ija, kedekatan intensnya dengan Arie bukan dalam arti
fisik. “Kami malah terhitung jarang ketemu. Cuma kalau sudah ngobrol soal
musik, saya dan Arie dengan instrumen
masing-masing, wah langsung mengalir lancar. Kayak curhat
deh. Saya enak, Arie juga begitu. Nggak usah
diomongin, mau main kayak apa, langsung mainin
aja, jadinya asyik.”
Menurut Ija, ia dan Arie sudah main bareng sekitar 15
tahun. Dan sudah memainkan banyak ragam jenis
musik. “Makin lama main bareng, saya merasakan betul bahwa Arie itu jujur dalam
musik. Tipikal permainannya juga senantiasa nyaris tanpa
emosi. Dia juga tipe drummer yang selalu terasa sangat cepat
tanggap, ketika menghadapi satu lagu.”
San Bernadino
Tapi kedekatan baik Budjana dan Ija dengan Arie, hampirlah “berakhir”. Pada 23 Juni
lalu, Arie pergi ke Amerika Serikat. Ia akan tinggal di kota San
Bernadino, sekitar 50 Km dari Los Angeles, untuk jangka waktu
panjang. “ Istri saya, Ina, dapat pekerjaan di
sana. Kami sekeluarga akan bermukim sekitar 10
tahun. Namun begitu, selama tinggal di sana, saya berusaha sesekali bisa pulang ke tanah air,” ucap
Arie.§
Baca
artikel lengkapnya di majalah NewsMusik 7 /
2001.
PESAN
|