.:: Selebriti NewsMusik ::.

 

 

A|B|C|D|E|F|G|H|I|J|K|L|M|N|O|P|Q|R|S|T|U|V|W|X|Y|Z

I Dewa Gde Budjana: Dari Sumba, Surabaya ke Jakarta dan Tokyo

Selebriti, Newsmusik Edisi 13 / 2000 Gideon Momongan

Bagaimana telinga, ucapan plus kepribadian dapat membentuk seseorang? 
Dan kemudian membawanya ke tahapan lebih meningkat, dari waktu sebelumnya. Bahkan membuka jalan, bagi masa depan nan cerah? Budjana, contohnya! 

Pada masa sekolah, pas kelas 1 SMP (1976) di Surabaya, pergaulan I Dewa Gde Bujana di dunia musik mulai liat. Lebih intens. Gitar listrik, Aria Pro II juga sudah dimilikinya pada 1981. Tiada hari tanpa musik. Ia pun bermain antara lain bersama Arie Ayunir, sekarang drummer POTRET. Dari acara-acara sekolah, mereka melangkah ke pentas nasional. Iseng-iseng berhadiah, tapi siap sedia! Ya siap, soalnya gitarnya saja sudah bikin sendiri. Musiknya dikroyok rame-rame, menjadi lebih idealis. Hasilnya? Ajang Light Music Contest 1984, babak final di Teater Terbuka-TIM, Jakarta. Pergelaran tahun kedua ini punya peserta kuat-kuat. Bagus dan hebat, karena ajang buatan Yamaha Music ini gengsinya tinggi, terutama di mata anak-anak band! Contohnya, EMS Bandung, asuhan susah payah Elfa Secioria. Gold Fingers yang klasikal dari Jakarta dengan kakak-beradik Mahesh dan Suresh Hotwani. Budjana ikut tampil, dengan bendera Squirrel Band-Surabaya yang dibentuk tahun 1980. Gitar dimodifikasi dengan design kreasi sendiri, fretless-guitar berbentuk bintang, bermusik eksperimental. Unik dan ajaib, buat sebagian penonton malam itu. Eh, Squirrel menang! Juara pertama lho.

Dari situ, bintangnya mulai bersinar. Budjana makin dikenal. Setamat studi di SMAN 2 Surabaya, Budjana hijrah ke Jakarta. Nekad. Asli! Ya berani mati deh, pengen bermusik saja lebih serius dan intensif. Mulai 1985, iapun memulai pengembaraannya di Jakarta.:

Masuk kafe dan TVRI

I Dewa Gde Budjana, bisa dibilang memulai karirnya dari bakat. Entah bakat dari siapa sebetulnya. Mungkin dari kakak dan neneknya, yang seniman musik tradisi Bali? Dari bibit tersebut, ia pupuk lagi dengan intens. Lewat pendengarannya. Ia biasakan telinganya menyantap permainan Yes, Gentle Giant sampai Tangerine Dream. Kemudian lebih fokus pada Pat Metheny atau Scott Henderson, Mike Stern, sampai John Mc Laughlin. Lantas juga menikmati betul permainan Allan Holdsworth.

Pria muda ini kelahiran Waikabubak, Sumba, pada 30 Agustus. Ia tinggal di sini sampai usia dua tahun. Kemudian ikut orang tuanya pindah ke Klungkung, Bali. Saat masih duduk di kelas lima SD ini, bakatnya mulai terbentuk. Dan itu pun dibentuk oleh seorang tukang bangunan di depan rumahnya di daerah Klungkung, Bali. Dari tukang tersebut, ia kenal dengan gitar, dan belajar perlahan. Sampai-sampai, suatu saat saking sudah senangnya dengan gitar, ia mencuri uang neneknya untuk beli gitar! Sampai sekarang Budjana tidak bisa.......§

Baca artikel lengkapnya di NewsMusik 13/2000. PESAN