|
|
|
|
|
|
Cokelat: Ekspresif dan MelodisSelebriti, Newsmusik Edisi 6 / 2000 – Andree Soeprodjo Awalnya iseng-iseng membuat grup, akhirnya malah membuat lagu. Hebatnya lagu tersebut malah menjadi chart di beberapa radio. Nah, apa yang membuat mereka tetap kompak, hingga tahun ini mengeluarkan album baru? Cokelat, band asal Bandung yang digawangi oleh Kikan (Vokal), Edwin (Gitar), Robert (Gitar), Ervin (Drum) dan Febrianto “Ronny” Nugroho (Bass) ini resmi memproklamasikan diri pada bulan Juni 1996. Karir musik para personel grup yang memiliki sifat sederhana dan natural ini sebelumnya boleh dibilang cukup sarat dengan be- berapa aksi show. Jadi tak salah kalau Sony Music Indonesia menggaet mereka. Nah, awal grup yang masing-masing personilnya menyukai jenis musik alternatif rock ini boleh dibilang solid, pasalnya mereka berangkat dari satu almamater (STISI Bandung), mem- bentuk sebuah grup band dan merambah ke berbagai panggung dengan mem- bawakan lagu-lagu milik grup kondang The Cranberries dan penyanyi kondang Alanis Morissette. Saking miripnya mereka membawakan lagu - lagu ter- sebut, Cokelat pernah didaulat untuk berkompetisi dalam ajang 'Alanis Meet U2 Night' yang diselenggarakan di Fame Station, Bandung. Cerita punya cerita sebenarnya mereka berangkat dengan pemain awalnya, yaitu Bernard (Gitar), Robert (Gitar), Deden (Drum), Kikan (Vokal) dan Ronny (Bass). Mereka berlima suka nge-band dan sering iseng latihan sepulang kuliah. Sejalan dengan waktu minat mereka terhadap dunia musik semakin dalam hingga mereka mulai menuangkannya ke dalam tulisan lagu. Saat itu lagu yang berhasil dibuat Cokelat adalah 'Bunga Tidur'. Tak puas hanya dengan mencipta, Cokelat kemudian menyerbu studio rekaman untuk membuat demo lagu tersebut. Keutuhan lima sekawan ini rupanya tak berlangsung lama, karena Deden (Drum) digantikan Ervin disusul Bernard (Gitar) me- ngundurkan diri dan posisinya digantikan Edwin. Kemunduran kedua personil awal Cokelat itu tak lain karena masalah kuliah yang mengharuskan keduanya harus memilih; main musik atau sekolah. Sejak itu Cokelat tumbuhlah dengan personel anyar tetapi matang dalam dunia musik. Dewi Fortuna rupanya berpihak pada mereka, Juli 1998 Cokelat masuk ke dapur rekaman beneran (mastering) untuk album kompilasi Indie-Ten bung!. Saat itu Sony Music Indonesia menggarap album kompilasi berisi 10 grup baru dengan lagu-lagu terbaiknya. Dalam album itu sendiri, Cokelat mengangkat 'Bunga Tidur' sebagai jagoan. Dan memang jagoan, karena lagunya berhasil menduduki puncak tangga lagu di hampir semua radio. Sukses mereka di album kompilasi itu akhirnya dilanjutkan oleh Sony ke album mereka sendiri. Tak tanggung-tanggung, Cokelat langsung dikontrak untuk empat album sekaligus! Nah, penggarapannya di- mulai oleh anak-anak muda kreatif ini sejak 8 September 1999 hingga 5 Januari 2000, dengan mengemas 10 lagu bernuansa pop alternatif bertajuk 'Untuk Bintang' yang layak untuk didengar. Hiruk pikuk suara gitar, bas dan drum terasa kental namun tetap melodis, apalagi dibungkus suara Kikan, dara manis kelahiran 9 September 1976, yang memang pas karakter lagu. Jika ditelusuri, konsep dan inspirasi pembuatan liriknya kebanyakan mengambil tema lingkungan hidup hingga ke pengalaman pribadi lho. “Anak-anak mempercayakan kepada saya untuk membuat lirik agar saya lebih menguasai penekanan lagu. Saya membuat beberapa lagu, baik lirik dan musiknya. Nah, anak-anak itu ada yang menyumbang lagu tanpa liriknya. Jadi mereka melepas saya untuk mengisi liriknya yang kadang ada juga yang dari pengalaman pribadi. He.he..”, ujar Kikan mahasiswi design grafis ini. Ekspresif,
pengalaman pribadi dan spontan mengalir bagai
air adalah Cokelat. Ini terlihat pula dalam
video klip mereka yang ekspresif, seperti
ekspresifnya overtune reff salah satu lagunya
yang berjudul 'Pergi'.§ Baca artikel lengkapnya di NewsMusik 6/2000. PESAN
|
|