.:: Selebriti NewsMusik ::.

 

 

A|B|C|D|E|F|G|H|I|J|K|L|M|N|O|P|Q|R|S|T|U|V|W|X|Y|Z

Eminem: Dari Trailer ke Mansion

Selebriti, Newsmusik Edisi 13 / 2000 Santi

 

Lewat lirik rap bernuansa muram, Eminem nggak sekedar numpang lewat di MTV Awards, tapi kemungkinan juga bisa jadi legenda.

Apa jadinya kalau Eminem yang nama aslinya Marshall Mathers, lahir dalam keluarga kaya? Apakah ia bakal sukses menjadi rapper dunia? Jawabnya: mungkin ya, mungkin tidak. Lantas, apakah betul hanya lantaran ia miskin dan mau bekerja keras, sukses lantas bisa diraihnya? Jawabnya, mungkin ya, mungkin tidak. Namun garis nasib menentukan Eminem sukses seperti hari ini.

Keberhasilan Eminem di panggung rap dunia sempat menghentakkan banyak orang. Ini bisa jadi berawal dari lirik lagunya yang bercerita tentang kehidupannya yang jauh dari kata bahagia. Kemiskinan, kesengsaraan, kriminalitas bahkan single parent adalah tema dasar lagu-lagu Eminem. Mengapa ia tertarik mengangkat tema ‘suram’ tersebut? Karena hal itulah yang menjadi bagian dari masa kecilnya.

Eminem yang tidak pernah mengenal figur seorang ayah, tumbuh dewasa dengan pergolakan jiwa yang cukup dahsyat. Di Warren, Michigan berdua dengan ibunya, ia tinggal dalam trailer dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini membuat ia sukar mencari teman tetap. Maka hari-harinya dihabiskan dengan baca komik dan nonton tv. ''Saya bahkan sukar untuk membuka diri sampai duduk di kelas 8,'' kisahnya. Mengerti akan masalah anaknya, sang ibu akhirnya memutuskan untuk menetap di timur kota Detroit. Di sini Eminem lulus SMP di Lincoln Junior Hign School lalu melanjutkan ke Osbourne High School.

Menginjak SMU ia mulai gaul. Nongkrong bareng teman-teman sebaya sambil mendengarkan lagu-lagu milik LL Cool J dan 2 Live Crew. Ia pun mulai tertarik pada irama rap yang menurutnya, punya getar-getar seirama detak jantungnya. Eminem mulai menulis baris-baris syair dan sajak yang merupakan ekspresi gejolak jiwanya. ''Saya menulis lagu rap untuk menuangkan hal-hal buruk yang ada dalam pikiran saya,'' jelasnya.

Sebagai remaja yang masih mencari identitas diri, ia mengalami ketidak stabilan diri. Ditambah bergaul dengan anak-anak jalanan. Ia mulai doyan nongkrong bareng teman-temannya. Bahkan mulai bolos sekolah sampai nggak naik kelas. Akhirnya ia dikeluarkan dari sekolah. Tanpa kecakapan apa pun, Eminem mulai memasuki kehidupan nyata yang keras. Ia kerja serabutan. Sadar pekerjaannya tidak mampu menghasilkan apa-apa, ia memutuskan untuk memperdalam kemampuan menulis syair. Ia pun berharap kelak bisa menjadi penyanyi tenar.

Meski nggak lulus SMU, Eminem mengakui pernah berusaha kembali ke sekolah. “Namun, entahlah saya sukar untuk kembali ke arah itu. Dalam pikiran saya yang ada cuma keinginan menyanyi dan jadi bintang rap,” tutur cowok kelahiran Kansas ini. Eminem pun mulai memasuki dunia nyanyi dan sempat gabung dengan grup-grup lokal. Basement Productions, The New Jacks dan Sole Intent, sempat dijajakinya. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk bersolo karier. Meluncurlah album Infinite tahun 1997 lewat label FBT Production. Begitu sampai di tangan komunitas hip-hop, bukan pujian yang diterimanya justru malah celaan.

''Sound saya dikatakan meniru-niru Nas atau Jay-Z,'' ujarnya. "Buat saya Infinite adalah masa pencarian identitas sound. Bagaimana saya ingin mengekspresikan sound yang saya inginkan. Saya akui Infinite lebih mirip sebuah kaset demo yang perlu perbaikan di sana-sini," terangnya. 
Tanpa peduli kritik orang, Eminem cuek aja. Ia terus mengembangkan musikalitas dengan rajin ikutan berbagai kompetisi. Di manapun ada kompetisi digelar, pasti nama Eminem terdaftar di dalamnya. Usaha itu ujungnya membuahkan hasil.

Seorang wartawan menangkap gelagat Eminem bakal jadi bintang. Ia kemudian diberitakan dalam majalah terkemuka Source, lewat kolom berjudul Unsigned Hype. Tak lama kemudian, Eminem sukses memenangkan 1997 Wake Up Show Freestyle Performer of the Year dari L.A. DJs Sway and Tech. Nggak cuma itu ia juga meraih peringkat kedua dalam kompetisi tahunan freestyle rap yang digelar majalah Rap Sheet.

Warna Rap Baru lewat Slim Shady

Tahun 1998, Eminem untuk kedua kalinya meluncurkan sebuah album. Diberi titel The Slim Shady EP. Isi penuh lirik kriminal yang sudah menjadi berita sehari-hari. Mulai dari pemakaian drug yang merajalela, pemerkosaan, sex dan tindakan kejahatan yang semakin di luar batas. Begitu ragam tema ini dikemas ala Eminem jadinya sensasional banget.

Begitu sensasinya, sampai-sampai Eminem dihujani protes keras dari masyarakat. Karena lagu-lagunya selain dipuji juga mencemaskan sekaligus menakutkan banyak orang. Nggak tanggung-tanggung, surat protes berisi kata-kata jorok dilayangkan kepada ibunya.§

Baca artikel lengkapnya di NewsMusik 13/2000. PESAN