MILES
DAVIS
Membentang
Jazz Lebih Luas & Lebar
Selebriti,
Newsmusik Edisi 9 / 2001
– Gideon
Momongan
Usianya
sudah 75 tahun. Sebagian besar perjalanan
musiknya, dijalani dengan seabrek ide-ide gila
yang terus menguntit. Sekaligus membuat jazz
tambah hidup. Bahkan membentuk jazz, menjadi
lebih luas dan lebar. Namanya lantas
disebut-sebut sebagai salah satu seniman musik
terbesar dunia abad 20! Ia adalah seniman yang
selangkah lebih maju dari jamannya, pun dari
generasinya sendiri.
Bicara
panjang lebar soal jazz, tak bisa tidak harus
mengutamakan nama Miles Davis. Dan untuk
penggemar jazz, haram hukumnya bila tidak
mengenal serangkaian kreasi musiknya. Hukum itu
berlaku universal, bahkan di negeri kita sendiri,
kalau bicara soal sosok kharismatis ini, bisa
dengan serta-merta banyak nama yang pandai
mendiskusikan tentang dia. Seru! Malah bukan
musisi melulu, justru jazz-listeners,
dalam beberapa hal malah lebih jago soal
debat-mendebat segala komposisi milik musisi
ternama ini. Oh!
But, the real thing is, Miles Davis (MD)
memang cemerlang. Otaknya, lewat pemikiran dan
kreativitas gilanya, juga lewat jari dan
mulutnya, yang menghadirkan bunyi-bunyian
trumpet yang khas dan unik. Menengok sekitar 50
tahun perjalanan musiknya, memang meninggalkan
tapak-tapak bagi sejarah jazz. Dimana dengan
seabrek ide brilian, MD hadir sembari
menyusupkan nafas-nafas baru.
Nah, pada waktu berikutnya nafas baru itu
dilihat dan didengar sebagai sub-genre jazz baru.
Kesimpulannya, MD memang menjadi salah satu
tokoh jazz terpenting. Yang sudah kadung dikenal
luas, bagaimana MD yang nyentrik itu mengawinkan
jazz sedemikian rupa dengan rock. Lahirlah, yang
namanya fusion!
Malah tak berhenti di situ, saking briliannya
dia juga mampu mengendus dengan nyaris sempurna
talenta-talenta bermusik orang lain. Alhasil, MD
senantiasa didukung nama-nama bergengsi, yang
dalam perjalanan selanjutnya, malah menjadikan
mereka jazzer-jazzer terpandang pula. Mereka
itulah, yang punya saham besar dalam
‘membunyikan’ musik rancangan MD dengan
begitu baik dan utuh!
Hidangan Nyaman bagi Penggemar Rock
Kita ngomongin dulu soal fusion deh. Muasalnya,
ketika MD melepas Miles In
The Sky pada 1968. Album ini sudah ikut
menyuarakan kreativitas ‘iseng’ MD, waktu ia
menjajal perpaduan jazz dan rock. Ide tersebut,
walau baru dalam tahapan awal, sudah berani
ditampilkan. Tentu saja, para penggemar jazz
tersengat dibuatnya. Edun, man!
Pada album itu, MD didukung Ron Carter
(bass), Herbie Hancock (piano/electric
piano), Wayne Shorter (tenor sax), Tony
Williams (drums) dan George Benson (gitar,
khusus lagu 'Paraphenarlia').
Mulai juga terdengar usaha MD untuk mengadaptasi
instrumentasi elektrik, lewat piano elektrik
yang dimainkan Hancock.
Eksperimentasi memadukan jazz dan rock berlanjut
lagi pada Filles In Kilimanjaroo, yang dilepas
beberapa saat kemudian. Kali ini tetap ikut
mendukung Tony Williams dan Wayne
Shorter. MD juga ‘memperkenalkan’ Dave
Holland dan Chick Corea. Menyuarakan
sound elektrik mulai menjadi kegemaran yang
menyenangkan MD!
Setelah itu, pada 1969, muncullah hal fenomenal
itu. MD melepas In A
Silent Way. Album dahsyat ini didukung
berbagai players tenar seperti Wayne
Shorter, Joe Zawinul, Herbie Hancock,
Chick Corea, Dave Hollands, John McLaughlin,
Tony Williams. Dalam album berisikan 'Shhh/Peaceful'
(MD)-17:58,00 dan 'In A
Silent Way/It's About That Time' (MD/Zawinul)-19:57,00
ini, MD seakan meninggalkan warna-warna musik
terdahulunya. §
Baca
artikel lengkapnya di NewsMusik 09/2001. PESAN
|