|
|
|
|
|
|
Ronnie Sianturi: Memburu angka 80.000Selebriti, Newsmusik Edisi 6 / 2000 – Nini Sunny Jika Ronnie tidak bisa menggapai angka penjualan kaset paling tidak sebanyak 80.000 copies, karier solo yang baru dirintisnya bersama Sony Music Entertainment Indonesia bakal tak berkelanjutan. Kok bisa separah itu? Sebagai salah satu penyanyi Trio Libels, kehadiran Ronnie Sianturi tak perlu disangsikan. Keandalan Ronnie sebagai pembawa acara kuis di televisi, pun belakangan sebagai pemain sinetron, boleh dipujikan. Tapi kehadiran Ronnie sebagai penyanyi solo? Konon, dinilai masih kurang eksis. “Sony Music menilai saya seperti itu. Dan saya pun mengakuinya,” ungkap Ronnie berotokritik seusai peluncuran album solo barunya, Belahan Jiwa di Lamoda Café, Plaza Indonesia, medio April lalu. Tidak eksisnya Ronnie, lebih disebabkan karena ia tidak terfokus betul berkarier di sana. Apalagi antara album pertamanya Sudikah Kamu (1994) dengan album ini bisa berjarak sampai enam tahun.Pencinta musik cenderung lupa dengan kehadiran Ronnie sebagai penyanyi tunggal. Memang sih, Ronnie sempat melejitkan single 'Melangkah di Awan' yang kemudian dijadikan soundtrack sebuah sinetron. Tapi ya itu tadi, berhenti sampai di situ. Sound- track-nya memang populer, tapi sosok Ronnie sebagai penyanyi solo, tenggelam dengan profesinya yang lain, plus kiprahnya sebagai penyanyi Trio Libels. Untuk memulihkan kembali ingatan masyarakat pada sosoknya sebagai penyanyi solo yang membawa album baru, Ronnie untuk sementara waktu rela meninggalkan aktivitasnya yang berhubungan dengan sinetron, hanya untuk berkonsentrasi dengan kegiatan promosi. Paling tidak dalam tiga bulan ini ia akan rajin berkunjung ke kafe-kafe untuk urusan nyanyi dan promosi. Manajemennya sudah merancang tour de café pada akhir Mei dengan repertoar yang tersusun rapi, ada lagu yang di- ambil dari album baru maupun lagu-lagu Top 40. Penampilan Ronnie didukung pula oleh penari latar. “Pendeknya saya ingin tampil total. Dan langkah ini saya rasa- kan sama saja seperti layaknya upaya penyanyi baru,” kata duda kelahiran 3 September tersebut. Ronnie juga merasa album baru ini sebagai album transisi, atau tepatnya album pencarian diri. “Artinya, aku ingin membuktikan kepada penggemar musik bahwa aku juga bisa berkiprah sebagai penyanyi solo. Dan tentunya untuk membuktikan hal tersebut, aku harus membawakan karya yang bagus,” ungkap Ronnie yang bersama Trio Libels pernah menyabet penghargaan BASF dan HDX Award. Sony Music Entertainment Indonesia- yang dalam lima tahun terakhir ini banyak memproduksi artis musik baru, serta mengambil grup dan penyanyi lama yang pernah memproduksi album di perusahaan lain - memberi target angka penjualan sebanyak 80.000 copies bagi Ronnie. Ronnie memprediksi paling tidak dalam jangka waktu enam bulan, angka itu bisa diraihnya. Kalau gagal? “Sony tidak melanjutkan kesempatan untuk rekaman album kedua dengan mereka,” ungkap Ronnie. Terlalu kejamkah perjanjian yang dibuat Sony? Sebetulnya tidak juga. Seperti kata Ronnie, “Saya malah merasa Sony memberi kesempatan terlampau banyak.” Ronnie lantas memberi contoh, ia diberi kesempatan untuk membuat empat buah klip, dengan penayangan yang cukup gencar di televisi. “Bayangkan saja berapa investasi yang dibuat Sony untuk album ini? Biaya membuat video klip itu kalau dihitung rata-rata bisa 30 juta perak saja, seluruhnya berjumlah 120 juta sendiri. Belum biaya pemasangan klip di televisi. Belum lagi ditambah cost produksi. Saya kira Sony layak mem- buat kebijakan macam itu.” ungkap Ronnie sambil menyebut lagu berjudul 'Belahan Jiwa', 'Kembalilah', 'Aku' dan 'Cinta' yang akan dibuat video klip. § Baca artikel lengkapnya di NewsMusik 06/2000. PESAN
|
|