.:: Selebriti NewsMusik ::.

 

 

A|B|C|D|E|F|G|H|I|J|K|L|M|N|O|P|Q|R|S|T|U|V|W|X|Y|Z

Simak Dialog: Siapa Dulu yang Mengetok Pintu

Selebriti, Newsmusik Edisi 11 / 2000 Baroc M. & Gideon M.

 

Menurut mereka, untuk mendefinisikan jazz itu sangat susah. Karena jazz itu harus dilihat dari esensinya! Lalu bagaimana pergerakan mereka sendiri sekarang?

Gue baru beli rekaman lama musiknya Oom Benny Mustafa. Jazz Masa Lalu Masa Kini, rekaman 1976, ada lagu yang durasinya 19 menit. Wah, suasananya ganti-ganti dan terasa pemikiran mereka sudah maju sekali saat itu,”kata Riza Arshad. Dan Ija - begitu panggilan akrabnya - melanjut- kan, ”Sayangnya industrinya tidak menunjang, tapi semangatnya tetap kencang. Gue salut tuh sama almarhum Oom Jack yang terus ngeluarin rekaman dengan sistem independen, waktu dulu itu! ”Bedanya dengan sekarang, “ timpal Tohpati, “anak-anak sekarang pemikirannya sudah progresif.” Tapi, buru-buru Indro menambahkan, “jadi kurang fokus!” “Sehingga regenerasinya belum juga terlihat,” Ija menyela lagi.

Karena itukah, grup-grup jazz muda belum lagi kedengaran? Maka orang paling hanya tahu Simak Dialog sebagai yang ‘termuda’? Lalu setelah Ija, Tohpati, Indro Hardjodikoro dan Arie Ayunir, siapa lagi yang punya semangat sama besar, untuk susah payah berjuang? Tapi kata senior, mereka betulan mainin jazzkah?

Karena Oom Jack, musisi jazz bisa terekspos dulu itu. “Lain dengan sekarang, belum tentu cukup terekspos. Kelihatannya yang memainkan jazz memang mereka, yang senior,” jelas Ija. Tapi perkembangan jaman mengakibatkan segala sesuatunya berubah. “Ya, jazz juga berubah. Untuk mendefinisikan jazz sangat susah, karena jazz itu harus dilihat dari esensinya. Seperti bahasa, jazz itu memiliki berbagai dialek, gaya permainan. Hal itu juga harus kita pakai sebagai dasar,” terang Ija yang disetujui Arie Ayunir.

Tapi masalah di atas akhirnya seakan menimbulkan konflik, menimbulkan gap. Paling tidak, antara yang senior dan junior. Bagaimana tuh? “Gue nggak bisa nyalahin siapa-siapa. Tapi jelaslah, ibaratnya, siapa duluan yang mau ketok pintu. Gue sebagai yang muda yah nggak masalahlah, jadi yang duluan,” ucap Ija. Indro menambahkan, yang penting adanya persatuan. Nggak ada jurang, nggak saling sinis. “Kita menghormati betul yang senior kok, jelas kita kalah pengalaman kan? Dan kita ingin bersatu, mengurangi perbedaan pandangan. Main aja sama-samalah,” jelas Tohpati.

Kalau soal hubungan dengan senior, kayaknya buat mereka nggak ada masalah. Tapi masalah buat grup ini mungkin soal album barunya, betul kan? “Karena kesibukan tiap personel, ya kita memang cuma sempat ketemu paling tiap dua minggu sekali. Sekarang sih sudah pelan-pelan ngumpulin lagu dulu,” terang Ija. Saat kumpul itu, kita juga latihan, tambah Indro. “Nah karena kesibukan juga, maka show kita juga nggak ada dululah,” ungkap Ija lagi.

Mereka sebagai musisi masing-masing memang terbilang musisi super sibuk saat ini. Ija, sibuk dengan jingle dan mendukung rekaman beberapa penyanyi. Indro dan Tohpati terlibat dalam berbagai proyek orkestrasi, terutama di layar kaca, selain rekaman berbagai album penyanyi. Arie sendiri, saat ini sedang terlibat dalam penggarapan album terbaru kelompoknya, Potret.
Mereka sepakat, walau sibuk di berbagai proyek musik lainnya, mereka tetap memerlukan Simak Dialog. Di grup ini, musiknya berhubungan dengan jiwa kita sebagai seniman, kita harus terus berkarya, dan harus balance, ucap Arie.

“Di Simak Dialog, kandungan seninya mungkin lebih besar. Dan kita menyerap pengalaman apa yang kita peroleh dari luar grup ini. Kita ngerti segala konsekuensinya, dan kita setuju, grup ini bukan untuk sebentar saja, makanya terus berlanjut kan?” Jelas Ija panjang. Nah, soal show, apa betul jazz itu susah dijualnya? Ija membantah, ”Ah nggak dong. Tergantung bentuk kemasannya. Yang seneng jazz itu menurut kita banyak.” Lihat saja, Arie menimpali,” waktu di Purwokerto, kita main di depan banyak penonton, kita aja kaget.”

“Yang bikin salah kaprah itu, orang suka menggelar jazz itu dengan dibikin eksklusif. Mustinya, yah bebas-bebas aja. Jazz tidak perlu dieksklusifkan, bikin ngeri duluan tuh,” kata Ija lagi.
Simak Dialog, akhirnya semacam mata air yang cukup menyejukkan kehadirannya. Bagi musisinya sendiri, juga penonton dan penggemar jazz.

Kita tunggu kelanjutan langkah mereka. Jazz tidaklah eksklusif, jazz itu adalah balancing jiwa, jazz itu menuruti perkembangan jaman, jazz itu memiliki berbagai dialek………So, keep swingin'!§

Baca artikel lengkapnya di NewsMusik 11/2000. PESAN