|
|
|
|
|
|
The Corrs: Melodi Indah dari IrlandiaSelebriti, Newsmusik Edisi 4 / 2000 – Santi Dian, Nini Sunny & Bens Leo Dengan tampang cantik dan ganteng, dengan lagu melodius dan lirik sederhana yang gampang dicerna, The Corrs menjadi bintang baru yang semakin mengharumkan nama Irlandia ke seluruh pelosok dunia. Mereka kini sedang melantunkan lagu hit ….
So I listen to the radio and all sign we used to talk So I listen to the radio remember when used to go… Setelah Bob Geldof menghilang dan menyisakan kebesaran nama lewat proyek sosial kemanusiaan USA for Africa dan konser Live Aid yang menumental di tahun 1985, tak pernah ada lagi musisi Irlandia yang mengangkasa di dunia showbiz. Maka, tatkala pas satu dekade kemudian muncul nama The Corrs dari kota kecil Dundalk, juga di Irlandia, orang pun terkesima. Musik pop seperti apa gerangan yang Corrs bawa? Mereka
menggebrak dunia pertama kali lewat debut
albumnya Forgiven Not
Forgotten pada tahun 1995. Tak cuma
mampu meraih penjualan kaset lebih dari 2 juta
copies, album ini juga sukses memperoleh penghargaan
Gold dan Platinum di sembilan negara, antara
lain, 8 penghargaan Platinum di Australia dan
negerinya sendiri, Irlandia, Double Platinum di
Spanyol, Denmark dan Selandia Baru. Bahkan,
dalam sejarah 'Warner Music Australia', album
The Corrs ini mampu meruyak di peringkat ke enam,
yang paling laku terjual, di bawah nama-nama
besar dunia, seperti Alanis Morissette,
Fleetwood Mac, Madonna, The Eagles dan Paul
Simon. Sukses mereka sebetulnya tidak terlepas dari peran David Foster. Komposer bertangan dingin ini ikut serta dalam penulisan lagu 'Closer' untuk dimasukkan dalam album Forgiven Not Forgotten salah satu single yang kemudian menjadi hit. “David Foster sangat mengerti musik kami dan memahami bagaimana mengerjakan musik kami,” kata Caroline. “David memiliki kemampuan luar biasa dalam membuat komposisi yang harmoni dan mencocokannya dengan kualitas vokal yang kami miliki. Ia juga selalu punya ide baru,” lanjut Caroline mengomentari David. Keberhasilan The Corrs yang berasal dari Dundalk, Irlandia, di samping banyak ditunjang oleh penampilan fisik tiga personil wanitanya yang rata-rata ramping, seksi, cantik dengan muka tirus, tipikal bentuk wajah wanita akhir tahun 90-an juga tentu saja ditunjang kualitas vokal dan warna musik balada dengan lirik dan lagu yang cenderung mudah diterima telinga. Di atas se-galanya nilai plus disematkan untuk mereka ka-rena kuartet bersaudara ini rata-rata piawai memainkan alat musik. Dalam sejarah band tahun 90-an, kehadiran kelompok musisi bersaudara yang piawai sekelas mereka terasa langka. Kolaborasi Musik Tradisional dan Pop Setelah sukses merilis album pertama, The Corrs kembali memasarkan album kedua, Talk On Corners, Oktober 1997 yang langsung sukses menggondol penghargaan Platinum di Australia hanya dalam waktu sebulan setelah dirilis. Talk On Corners telah terjual lebih dari 6,5 juta copies dan mendapat banyak penghargaan di antaranya, 15 Platinum di Irlandia, tujuh Platinum di Inggris, lima Platinum di Spanyol, empat platinum di Malaysia dan double platinum di Australia, Singapura dan Denmark. Album kedua ini boleh dikatakan memiliki corak musik yang baru dan ber-beda, meskipun tetap terdengar khas The Corrs, memuat musik tradisional Irlandia dengan sentuhan musik pop modern. Seperti halnya lagu-lagu balada yang disuguhkan dalam album pertama, dalam album kedua ini kekuatan lagu yang bernafaskan balada kuat terdengar lewat 'Only When I Sleep' terutama karena adanya petikan gitar dengan nuansa melankolis. Andrea (lead vocal) menulis hampir seluruh lirik lagu. Dalam Talk On Corners sejumlah nama besar seperti David Foster, Glen Ballard (produser album Alanis Morissette) hingga Billy Steinberg (mengerjakan album Madonna - The Bangles) turut ambil bagian. Bob Clearmountain yang dipercaya U2, Eric Clapton dan Bryan Adams untuk melakukan mixing album mereka, juga mengambil peran yang sama dalam Talk On Corners. The Corrs berkolaborasi dengan para pencipta lagu profesional seperti Oliver Lieber, dalam melahirkan lagu 'Only When I Sleep' juga dengan Carole Bayer Sager, dalam menciptakan 'I Never Loved You Anyway' dan 'Don't Say You Love Me'. “Setiap lagu memiliki ciri tersendiri,” katanya saat mengomentari tema lirik lagu yang ditulisnya. “Ada romantisnya cinta, manis pahitnya kehi-dupan, tragedi, harapan, mimpi, fantasi khayalan. Semua itulah yang menjadi inspirasi kuat dari lagu-lagu kami,” jelasnya lagi. Besar dari Seni Peran ................§ Baca artikel lengkapnya di NewsMusik 4/2000. PESAN
|
|