|
|
|
|
|
|
Ubiet: Penyanyi Langka di Belantara PopSelebriti, Newsmusik Edisi 13 / 2000 – Nini Sunny Ia penyanyi sekolahan. Ia punya ornamentasi unik juga aneh. Lewat album barunya Archipelagongs, Ubiet menyuarakan New Age. Nama lengkapnya Nyak Ina Raseuki. Tapi cukup panggil dia Ubiet. Lahir di Jakarta, 24 Mei 1965, dari ayah (Aceh Pidie) dan Ibu (Padang). Ubiet sendiri dalam bahasa Aceh artinya kecil. Tapi jangan sekali-kali memandang kecil kemampuan vokal Ubiet. Sebab Ubiet bukan sekadar penyanyi kelas “kamar mandi” yang mendadak bisa rekaman. Buktinya, sepanjang lima tahun Ubiet mendalami tehnik nyanyi barat di Institut Kesenian Jakarta. Lantas meraih gelar Doktor Etnomusikologi di University of Medison, Wisconsin di AS, dan kini kandidat Ph. D pada universitas yang sama. Dua-duanya lewat program beasiswa yang dijalaninya sepanjang enam tahun. Di tengah masa pendidikan, Ubiet anthusias belajar seni vokal tradisional Indonesia, maupun mancanegara terutama dari Africa, Korea dan Spanyol. Menggali hal baru membuat Ubiet menjadi wanita yang tak pernah puas akan ilmu. Apalagi di tengah itu ia bisa menemukan banyak hal unik. “Seperti ketika saya mempelajari Flamenco, nyanyian Andalusia, Spanyol Selatan. Ternyata secara sepintas saya menemukan ornamentasinya mirip seperti yang ada di Timur Tengah, Sumatra, dan juga gaya orang membaca Al Qur'an,” ungkap Ubiet. Dengan ilmu yang dipelajarinya, Ubiet punya kemampuan vokal yang terkesan langka, terlebih jika dibandingkan dengan penyanyi pop kamar mandi tadi. Lewat modal inilah, Tony Prabowo, seorang pemusik kontemporer sekaligus pimpinan The New Jakarta Ensambel pernah melibatkan Ubiet dalam pembuatan rekaman berjudul “Commonality” pada 1999 dan membawanya manggung di berbagai kota mulai dari Jakarta, London dan New York. Di Indonesia, Ubiet baru dikenal di kalangan eksklusif. “Saya biasanya cuma manggung di TIM, GKJ dan kalangan pesta orang-orang tertentu. Dua tahun lalu bersama Tony saya muncul secara live dengan Tonny dalam rangka ulang tahun RCTI,” ungkap wanita berbintang Gemini dan penggemar makanan Indonesia ini. New Age versi Archipelagongs September lalu, bersama Dotty Nugroho, Dame Hutabarat dan Sekar Ayu Asmara, Ubiet meluncurkan album baru dengan titel Archipelagongs; sebuah album yang memiliki unsur beragam budaya Indonesia, yang memuat kreasi musik pop “lain” Indonesia, atau bisa diasumsikan sebagai aliran New Age. Kelompok penggagas album ini bekerja secara bersama. Sekar menyiapkan lirik, Dotty Nugroho --- selama 10 tahun terakhir ini merupakan salah satu jingle maker terlaris Indonesia--- menyiapkan lagu dan aransemen musik. Sedangkan Ubiet bertugas merancang garis melodi dasar dan ornamentasi untuk vokalnya sendiri. Seluruh lagu yang termuat di situ, memasukkan unsur ornamentasi yang sesuai dengan landasan etnik dari lagu yang diciptakan. Pada “Remmeber Maninjau”, misalnya. Bukan hanya musik yang mengingatkan kita pada “Ranah Minang”, melainkan Ubiet juga mencoba membuat ornamentasi vokal, seperti suara saluang. “Tapi, saya tidak meniru suara saluang,” ungkap Ubiet menegaskan.§ Baca artikel lengkapnya di NewsMusik 4/2000. PESAN
|
|