Kesadaran
Investasi Para Musisi
Newsmusik Edisi
04 /
2000 – Bens Leo
Sejarah industri rekaman di Indonesia bisa berawal dari dua
tempat:
Lokananta di Surakarta dan Irama di Menteng Jakarta.
'Lokananta' milik pemerintah, dan banyak
melahirkan lagu-lagu daerah, sementara 'Irama' milik Mas
Yos, banyak melahirkan lagu-lagu hiburan sebutan untuk lagu pop
sekarang. Nama-nama
Rachmat Kartolo, Nien Lesmana, sampai
Patty Sisters pernah rekaman di 'Irama' yang awalnya hanya sebuah studio kecil di sebuah garasi di
Menteng, Jakarta Pusat. Peristiwa rekaman itu
terjadi di ujung tahun 1950-an hingga memasuki tahun 1960-an.
Lalu, memasuki awal tahun 1970-an, di daerah Bandengan Selatan Jakarta Kota, berdiri studio rekaman
Dimita yang dikomandani oleh Dick Tamimi. Studio rekaman ini juga menjadi pioner rekaman lagu-lagu pop, karena di tempat ini nama-nama tenar
Koes Bersaudara, Panbers, Dara
Puspita, Rasela, lahir. Sampai dengan tahun 1975 Dimita tetap
berjaya, bahkan dengan keunikannya: musisi harus berjuang memburu
jangkrik, atau rekaman harus break karena ada kereta api
lewat. Ini tentu gara-gara akustik studio tidak
memadai, sementara teknologi rekaman pun masih me- ngandalkan jumlah track yang
kecil: 8 tracks. Dimita memang terletak di pinggir rel kereta
api. 'Kecelakaan' ini menyebabkan, begitu lamanya proses rekaman
dilakukan. Jika jaman sekarang satu shift dihitung antara 7 atau 8 jam, jaman dulu kala produser rekaman agak membiarkan artisnya
berkreasi. Sebab, dari tahun 50-an hingga pertengahan tahun 70-an, studio rekaman tak ada yang
disewakan. Pemilik studio adalah eksekutif produsernya
sendiri.
Perkara berburu jangkrik
misalnya. Kamu bakal kaget mendengar cerita
Benny Panjaitan, gitaris dan komposer
Panbers, tatkala merekam album perdananya di
Dimita, berkali-kali harus mencari jangkrik yang mengganggu konsentrasinya
ber- nyanyi pada saat vokalis Panbers ini harus take
vokal.
Dick
Tamimi, Mas Yos adalah nama-nama pioner pemilik studio
rekaman. Setelah itu muncul raja studio rekaman Indonesia, dan kelak dianggap sebagai produser legendaris yang menguasai pangsa pasar terbesar di Indonesia, yakni Yamin Wijaya atau biasa disebut Amin Cengli yang memiliki studio rekaman
Metropolitan kini Musica Studio's dan
satunya, sang raja adalah Eugene Timothy, mengomandani perusahaan rekaman
Remaco. Remaco pernah menjadi perusahaan rekaman
ter- besar di Indonesia, dengan akses kuat ke pergaulan di dunia rekaman
Internasional, karena pada saat membuat Piringan Hitam ( PH ), seperti
Irama, Lokananta, dan Dimita, Remaco masih memakai perusahan pembuat matris pencetak PH di
Singa- pura.
Di
Remaco, lahir nama-nama besar
Bimbo, D'Lloyds, The Mercy's dan kelak
Koes Bersaudara yang pada tahun 1967 berubah nama menjadi Koes Plus pun pindah ke tempat
ini, karena iming-iming bonus Mercy terbaru untuk
komposernya, Tony Koeswoyo. Sementara itu, Amin Cengli banyak mengandalkan
pertemanan, antara lain merekam kawannya sendiri, album pop jazz
Ireng Maulana. Namun, kelak Metropolitan menjadi perusahaan rekaman besar dengan nama baru Musica Studio's, dan tatkala Amin meninggal dunia semua aset keluarga dan kerajaan bisnis studionya diserahkan pada
adik-adiknya, antaralain Indrawati Wijaya (Acin ), Acu Wijaya dan adik-adiknya yang lain.
Tatkala Remaco ambruk pada awal tahun 80-an dan Eugene tinggal mengandalkan sejumlah master rekaman yang masih
dimilikinya, baik sejak di era rekaman PH maupun kaset
rekaman, Musica ganti menunjukkan dominasinya. Di tempat ini
diterapkan sistem rekam yang banyak mengandalkan insting
humanisme. Dengan cara-cara 'persaudaraan-pertemanan', banyak sekali artis musisi yang mampu bertahan lama, dikontrak jangka panjang oleh
Musica. Sebagai contoh nama
Chrisye, lebih dari 80% karier rekamannya yang dimulai dari jaman album solo
Sabda Alam (1978) sampai album
Badai Pasti Berlalu (1999), direkam
'sebagian besar' di Musica. Sebelumnya, bersekutu dengan
Eros Djarot, Debbie Nasution, Odink,
Ronny Harahap, Guruh Soekarno, Gauri Nasution juga
Kompiang Raka yang membawa musisi pentatonik
Bali.
Chrisye dan Berlian Hutauruk
merekam album Guruh Gipsy di studio
Tri Angkasa yang 'hanya' 16 tracks di Kebayoran
Baru. Rekaman yang disebut terakhir inilah sebenarnya embrio lahirnya album paramusisi
'gedongan', yang
melahirkan album monumental Badai Pasti Berlalu, juga album Jurang Pemisah yang digarap Jockie
Suryoprayogo. ( 1976 ).
Pada titik
lanjutannya, setelah Radio Prambors
......§
Baca
artikel lengkapnya di majalah NewsMusik 04 /
2000. PESAN
|