Para
Jawara Kompetisi Musik (Dunia)
Newsmusik Edisi
05 / 2000 –
Nini Sunny, Baroc Mardian, Andree Soeprodjo,
Dion Momongan, Ramadhani & Bens Leo 
Ternyata tak hanya AB Three yang mampu menyisir beragam kompetisi musik dunia dan pulang menjadi jawara. Harvey Malaihollo bahkan merebut best performer pada World Popular Song Festival, Tokyo 1986. Siapa lagi yang dahsyat, dan kiat mereka buat menang?
Puncak-Puncak Prestasi
World Popular Song Festival ( WPSF )
Tokyo, sebenarnya adalah ukuran puncak prestasi dari segala macam kompetisi musik Internasional yang
ada, karena di arena kompetisi yang digelar di Balai Budokan
ini, para peserta dari penjuru dunia datang
mewakili tak hanya negara, tapi juga benua. Dari Eropa misalnya sarang kampiun musisi pada tahun 1970 hinga 80-an, peserta kompetisi asal Eropa dijaring dari arena kompetisi lagu yang disebut
Eurovision Song Contest. Dari benua
Amerika, dibagi dua blok peserta yang sama-sama memiliki gengsi
tinggi, yakni Amerika Serikat dan Amerika Latin. Blok negara yang
disebut terakhir sebenarnya juga gudangnya musisi dan penyanyi
bergengsi, khas dan punya kualitas. Karena dari kawasan ini ada
'negara-negara musisi berkarakter': Brasil, Chile, Peru dan lain-lain. “Karena
itulah, saya merasa bangga kalau menjadi juara penyanyi terbaik di World
Popular Song Festival,“ kata Harvey.
Tahun 1986, Harvey Malaihollo merebut best performer
istilah untuk 'penyanyi terbaik' pada WPSF, Tokyo, mengungguli peserta grand final dari 28 negara di
dunia, lewat lagu
'Seandainya Selalu
Satu' ('If We Could Always be Together') karya
Elfa Secioria/ Wieke Gur. Elfa juga tampil sebagai arranger dan con- ductor di Balai
Budokan, gedung tempat pergelaran olahraga sumo di
Jepang. Harvey adalah puncak dari kemenangan Indonesia di arena kompetisi musik
dunia, karena seusai itu, WPSF diakhiri penyelenggaraannya oleh Yamaha
Music, tepatnya pada kompetisi ke 13, pada tahun 1988.
“Seingat
saya, pada 1987 di Budokan Hall mulai ada semacam apresiasi musik festival, mengenang kebesaran festival itu dari tahun penyelenggaraan
pertama hingga ke 13. Itulah kompetisi terakhir. Setelah
itu, Yamaha Music yang berpusat di Tokyo merasa lebih perlu membesarkan nama Light Music Contest yang memamerkan peragaan alat musik merk
Yamaha,“ kata Elfa Secioria, musikus yang cakap membaca denyut arena lomba musik tingkat
dunia.
Diluar
WPSF, nama-nama lain memang menyebar di 5 benua, namun terasa kurang mengakar karena
peserta kompetisinya datang atas undangan yang bersifat personal, sering tak mewakili utusan
negara.
Titiek Hamzah, Anton Issoedibyo, pasangan komposer
Younky Soewarno - Maryati dengan AB Three
misalnya, mengikuti kompetisi musik di berbagai negara Asia, Eropa dan Amerika Latin karena adanya undangan dan informasi langsung dari panitia
setempat. Negara penyelenggara memantau keunggulan
Indonesia juga dari kompetisi musik bergengsi macam
WPSF, Asian Song Festival, ABU Song Contest atau Golden Kite Song Festival. Kompetisi lagu yang disebut itu menyebar di kawasan Asia-Oceania.
Bagi Chris Pattikawa yang menjadi anggota FIDOF ( Federation Internationale des
Organization de Festivale = Organisasi Federasi Festival Lagu Internasional ) dari Indonesia, menjadi peserta kompetisi musik di luar negeri seperti layaknya tamasya
seni, “Kami
menganggap inilah awal mempromosikan artis kita
keluar, sebelum menembus dunia Internasional dalam arti
sebenarnya. Misalnya lewat rekaman di Amerika atau di London
Inggris. Jangan lupa bung, di setiap festival musik di luar negeri
dimanapun juga para tallentscout dan produser musik dunia juga hadir di
sana,“ ujar Chris, penemu AB Three lewat
Asia Bagus!. Karena itulah, Chris menjadi tak perduli dengan rasan-rasan orang bahwa AB Three hanya menyisir kompetisi musik bintang 2 atau 3, belum yang bintang 1 macam
WPSF. Celakanya, sebelum mengikuti WPSF Tokyo, arena ini pun sudah
terkubur. Kini orang macam Elfa, Younky, Addie MS, Erwin
Gutawa, Dwiki Dharmawan, Purwa Tjaraka kebanyakan tampil sebagai arranger/ music director dan komposer mengikuti kompetisi musik yang
ada, sekadar untuk pergaulan musik Internasional. Yang terujung prestasi Indonesia diukir oleh
Dwiki Dharmawan dan Rita Effendy merebut Grand Prix dan US$ 10.000 di
Asian Song Festival 2000 di Manila, 25 Maret
lalu.
Profesional, Siap Mental
..........§
Baca
artikel lengkapnya di majalah NewsMusik 05 /
2000. PESAN
|