GELOMBANG
PENTAS ARTIS DUNIA
Newsmusik
Edisi 09 / 2001 –
Nini Sunny, Gideon Momongan & Bens Leo
Meski
Indonesia masih rawan keamanan, sejumlah musisi
dunia bertubi-tubi membuka pentas di sini.
Benarkah ini sebuah tambang emas buat promotor,
sekaligus ladang subur bagi orang produksi di
belakang panggung ?
Hari
itu, 31 Juli 2001, cuaca cerah melingkupi
Stadion Teladan, Medan, Sumatra Utara.
Sekitar 25.000 penonton pembeli tiket
seharga 3 dan 5
dolar harga tiket pertunjukan musik
internasional termurah di dunia!) datang
memadati stadion dengan mata hanya
terarah pada panggung berukuran
raksasa
18 x 12 m. Kelompok Megadeth asal
San Fransisco, California, AS
menggelar pentas bertajuk The World
Needs A Hero World Tour dengan bantuan sound
system berkekuatan 150 ribu watt dan
ditingkahi tata
cahaya berkekuatan 300-350
ribu watt.
Usai
Boomerang bermain
sebagai band pembuka, tepat pukul 21.20 WIB, Jimmy
DeGrasso ‘menyelinap’ ke belakang
drumset, Dave
Mustaine mencangking Jackson Floyd Rose
menghampiri mike di tengah panggung.
Tanpa kata sambutan ia langsung menggeber gitar.
Begitu pula dengan Dave
Ellefson yang membopong Fender Precision
5 strings
dan Al
Pitrelli yang memainkan Gibson Les Paul
Standard langsung menderukan lagu pertama,
‘Dread & Fugitive Mind’ yang termuat
dalan album kompilasi Capitol
Punishment tahun 2000.
Pada
bagian pre
chorus, Ellefson dan Pitrelli ikut urun
suara sebagai backing vokal. Begitu
memasuki chorus, harmonisasi duet gitar antara Pitrelli - Mustaine terdengar
sangat harmonis. Pitrelli ternyata sanggup
melanjutan tradisi harmonisasi gitar yang
menjadi ciri khas Megadeth, sejak bergabungnya Marty Friedman pada 1990. Ketika lagu mendaki bagian interlude,
giliran drummer Jimmy DeGrasso yang mendapat
perhatian. Tendangan kedua kakinya pada double
bass drum sangat konstan dan bertenaga. Ia
melakukan
pattern mirip yang dilakukan pendahulunya
Nick Menza pada chorus
lagu ‘Foreclosure Of A Dream’ di album Countdown
To Extinction di tahun 1992.
Sementara
itu di bawah panggung, puluhan ribu penonton
memekik, bergoyang, bahkan menjatuhkan diri di
lapangan sepak bola yang basah kuyup akibat hujan yang turun
sebelumnya. Kota Medan yang keras
berhasil ditaklukan Megadeth, tanpa
keributan seperti yang ditakutkan banyak
orang.
Seminggu
kemudian, tepatnya 5 Agustus
2001, di Gedung
Sabuga, Bandung, Scorpions muncul
dihadapan 2500 penonton. Sebagian besar dari
mereka adalah ABG. Maksudnya sih, bukan Anak
Baru Gede melainkan ‘Angkatan Babe Gue’
alias, muka-muka matang. Sementara ABG asli
mungkin ada di kamar masing-masing, sedang
belajar! Di antara ratusan penonton kelas
festival itu, tiga orang ibu setengah baya
berpenampilan modis, yang mengaku fans berat
Scorpions dari masa masih sekolah dulu, ikut
melantunkan ‘Wind Of Change’, ‘Still
Loving You’,
‘Always Somewhere’ Sambil sesekali
serempak berteriak lantang, ”Rock You Like A
Hurricane!” Astaga! Eh, dimana suami dan
anak-anaknya? Ketiganya cuma senyum-senyum
simpul!§
Baca
artikel lengkapnya di majalah NewsMusik 09 /
2001. PESAN
|