Revolusi
Indi Label Indonesia
Newsmusik
Edisi 01 / 2000 – Bens
Leo, Baroc
Mardian, Andree,
Ramadhani
Kelompok
musisi independen Indonesia ribuan jumlahnya.
Membentuk komunitas dengan jenis musik berbeda.
Di Bandung, sepekan bisa lahir 3 album indie,
diduga omzetnya milyaran perak perbulan. Banyak
menyebut dirinya underground.
Dari
Industrial Sampai Ska
Kata
underground naik daun lagi, dan jadi bahasa
bersayap bagi kalangan musisi independen. Di
Bandung basis kelompok musisi indie, kata
underground diterjemahkan sebagai 'bawah tanah',
dengan arti khusus 'kebebasan buat bergerilya'.
“Kami menyebut underground sebagai spirit
bermusiknya. Di Bandung underground nggak ada
godfather-nya. Jadi, semua bersaing. Semua
memiliki kubu dan massa masing-masing. Beda
dengan di Jakarta, dulu ada satu grup yang
menjadi pimpinan underground. Di Sukabumi juga
begitu, “ kata Jodyan, penyiar Radio MGT FM
Bandung, yang sedang berjuang mengudarakan
program 'Band Indie' saban Minggu siang di
radionya. Anak muda ini pernah mengalami suasana
nggak enak sehubungan dengan pengudaraan mata
acaranya, “ Karena kata underground diartikan
salah kaprah. Bagi sebagian musisi, kata
underground diartikan sebagai band-band pembawa
lagu-lagu keras, tapi buat saya dan banyak
musisi lainnya,underground bisa diisi segala
macam jenis musik, selama mereka belum masuk
pada major label, “ tambah Jodyan.
Pendapat
ini disetujui oleh Beng-Beng, gitaris Pas
Band, kelompok indie Bandung yang terawal
menembus major label di bawah bendera Aquarius
Musikindo. “Pas awalnya memang mainin musik
rock, terinspirasi oleh Nirvana, yang awalnya
juga band indie. Tapi, sejalan dengan
pendewasaan bermain musisinya dan moodnya pada
saat mencipta lagu, boleh saja suatu saat lagu
karya kami agak kalem sedikit. Lagu Bocah
pada album baru kami Psycho
I.D nggak ada kaitannya dengan
perubahan sikap bermusik Pas. Bocah lahir di
tengah kondisi pemain Pas sedang riang-gembira
Yuki baru punya anak pertama - sedang isi lagu
kami di album mini perdana Four
Through The Sap - memang harus keras
begitu, karena pada saat itu kami sedang
berjuang dan suka main lagu yang lebih cadas,
“ ujar Beng-Beng. “Jadi underground memang
boleh jenis musik apa saja, karena tergantung
spirit bermainnya. Spirit untuk bisa independen,
bebas menentukan jenis musik dan mencipta lagu,
tidak didikte siapapun, “ lanjut pendiri Band Air
dengan lagu hit 'Bintang'
ini.
Namun,
bagi Risris Rap pemilik kios 'Gudang
Bawah Tanah' di Plaza Palaguna, Bandung,
underground lebih dekat dengan jenis musik
metal. Jenis musik ini memang jauh dari incaran
perusahaan rekaman besar yang 'resmi', yang
biasa disebut major label. Bahkan teman-teman
Risris yang diwawancarai NewsMusik di depan
kiosnya di Palaguna berpendapat agak ekstrem,
“Kalau band indie masuk major label, pasti
konsep bermusiknya jadi beda, karena harus
disesuaikan dengan pasar, dan tak dapat
beridealis ria lagi.“.Pendapat yang sama
diberikan oleh grup brutal death Jakarta,
Bloody Gore.
Pendapat
inilah yang ditolak oleh Beng-Beng, Jun
Fan Gung Foo dan Noin Bullet dari
Bandung. Noin Bullet yang memainkan musik ska-core,
awalnya memang indie label, namun kini masuk
lingkaran major label Warner Music Indonesia. “
Tapi musik kami tak berubah. Semua lagu yang
kami jual dengan indie label, langsung diedarkan
lagi oleh Warner, dengan label Warner Music
Indonesia. Tanpa berubah, tanpa didikte siapapun,
“ kata Chairul, gitaris Noin Bullet. Bersama
Beng-Beng, ia curiga, jangan-jangan anak-anak
indie banyak iri, karena Pas, Noin Bullet dan
beberapa band indie lainnya bisa masuk major
label, sementara mereka 'belum'.
“Banyak
band-band indie yang sejak awal saja sudah
alergi sama major label, dan tak mau menawarkan
lagu-lagu karyanya ke sana. Padahal banyak
contoh menarik tentang band-band indie yang
masuk major label, seperti Netral, Pas,
Jun Fan Gung Foo dan Sucker Head.
Lagu Walah
yang ngetop dari album perdana Netral, awalnya
mengudara mewakili band indie di acara
Indielapan-nya Radio Prambors, “ ujar Dodo
Abdullah mantan produser acara Indielapan -
Prambors - kini menjadi produser band-band warna
baru dengan label 'Independen Records' dan
'Pops' di bawah Aquarius.
Akhirnya,
dalam keluarga underground alias independen itu,
ada jenis musik yang beragam :
industrial-techno, hardcore, brutal death metal,
punk, hard-rock, ska, alternative bahkan pop
sejenis musiknya Sheila on 7 dari Yogya.
Fenomena
Indie .......§
Baca
artikel lengkapnya di majalah NewsMusik 01 /
2000. PESAN
|