Para
Jutawan Indie
Newsmusik Edisi
01 /
2000 – Bens Leo,
Dion,
Hakim, Baroc
Mardian
“Kami masuk rekaman dengan konsep
independen, terinspirasi oleh
Nirvana. Mereka awalnya kan indie label
juga, “ cerita Beng-Beng Pas. Februari 1994,
Pas masuk studio Triple M, ditangani oleh
Hari, sebagai sound engineer. Sewa studionya Rp.200.000,- per-shift untuk 8 jam. Pas memakai pita 2
inchi, harganya masih Rp.250.000,-. Untuk 4 lagu, cukup satu pita
saja.
Pada
awalnya, Pas melepas mini album 4 lagu berjudul
Four Through The Sap ini untuk 2000 kaset
dulu. Pas membeli label perekam lagu daerah Jawa
Barat, Nova Records, lalu memilih Tropic Records sebagai distributor, “Jadi kami membayar pajak
resmi, “ ujar Beng-Beng, Sarjana Fakultas Pertanian
Unpad.
Waktu album mini itu beredar dengan sistem 'colek teman', diluar dugaan terjadi repeat, setelah 4 bulan laku 6.800
buah. Harga jualnya perkaset Rp.5.000,-, dengan cost produksi perkaset Rp.1.800,-. Jadi setelah dipotong oleh distributor, Pas masih mengantungi keuntungan lumayan
banyak.
“Harga kaset Pas dengan 4 lagu termasuk
mahal, karena waktu itu album Indonesia berisi 8-10 lagu produksi major label, dijual 7.000
perak, “ cerita.Beng-Beng.
Karena tahu masalah distribusi, Pas rela berada di bawah Aquarius, “Karena ngitung royaltinya relatif
benar. Di perusahaan lainnya, ada yang ngajak kerjasama dengan Pas, tapi kami disuruh ganti nama dan lagunya rada
dirubah, sesuai musik rock di pasar. Kami tolak opsi
itu, “ masih cerita Beng-Beng. Pas pun bertahan dengan konsep
independennya, meski akhirnya berada di bawah Aquarius.
Funky Kopral juga membuat demo
rekaman, tapi cuma dua lagu
'Funkopat' dan
'Pesta Funky'. Demo lagu itu langsung diterima Warner, “Kami gembira bercampur
panik, karena awalnya belum siap dengan rekaman satu album.
Tapi, kesempatan itu kami sikat aja, bikin lagu lainnya lebih bersifat
spontanitas, “ cerita Bondan, bassist-nya yang dulu pernah jadi penyanyi
anak-anak. Band yang terdiri dari anak-anak SMU
antara lain Kristo pernah jadi gitaris band SMU 3
Setiabudi, SMU penghasil musisi - plus satu mahasiswa
ini, memang relatif tak bersusah payah menembus dunia
rekaman. Video klip Funky Kopral termasuk 'ciamik
punya', “Pembuktian bahwa kami tak sekadar bisa main
musik, tapi juga mampu bergaya di depan kamera, “ canda
Angga, vokalis.
Jun Fan Gung Foo punya pengalaman tak nyaman waktu pertama bikin demo
lagu. Awalnya mereka dapat informasi, ada studio rekaman murah di
Bogor, per-shift antara Rp.300.000,- Rp.400.000,-an, “Tapi akhirnya tekor
juga, karena harus bayar tol, beli bensin, makan kenyang dan lain-lain. Buntutnya harus balik ke Jakarta dan sewa studio di
sini, “ ujar Vicky. Mengawali kariernya dari membawakan nomor ska milik
Big Fish, Save Ferris dan Mighty-Mighty
Bosstones, ujungnya Funky Kopral menemukan format musiknya yang mereka sebut the
second wave ska, dengan kecenderungan memainkan musik ska tradisional yang diolah lagi dengan punk dan
alternatif. Gung Foo merupakan band ska yang banyak
penggemarnya, jauh hari sebelum mereka rekaman. Seperti
/rif di Bandun,. style independen Gung Foo juga
terlihat, sewaktu mereka merancang cover album bertitel
Naga 2000
Merah, dengan tipografi ala huruf
Cina.
Sedang
Sheila on 7, membuat ......§
Baca
artikel lengkapnya di majalah NewsMusik. PESAN
|