Punk
SKA sebuah kritik dari Anak Muda
Newsmusik Edisi
01 /
2000 – P.
Subagyo
Tatkala
aliran punk-ska bangkit lagi pada pertengahan
1990-an, para pengamat dan praktisi industri
musik tentu saja terhenyak. Apalagi musik yang
dilahirkan oleh anak-anak jalanan di kota
London, Inggris, ini kemudian mampu mendominasi
panggung musik anak-anak muda sedunia. Padahal
para spesialis di dunia permusikan itu
menggangap alirah 'gaduh' ini sudah menjadi
sejarah sejak tenggelam tanpa alasan yang jelas
pada pertengahan 1980-an. Bye-bye punkrockers,
anak-anak jalanan yang kemampuan bermusiknya
hanya pas-pasan, demikianlah kurang lebih
umpatan yang sering terlontar dari para manajer
di industri rekaman raksasa alias major label
yang kini mendominasi bisnis permusikan di
seantero jagad . Konon, para orang tua pun
banyak yang ikut senang karena mereka
sesungguhnya sudah lama marah pada sumpah
serapah dan dandanan serba heboh yang kerap
ditonjolkan oleh para punkrockers. Demikian
negatifnya pandangan para raksasa industri musik
dunia itu terhadap aliran punk, sampai pernah
ada yang yang menganggap kejayaan punk pada
dekade 1980-an karena faktor kebetulan. Mereka
pun lantas kerap berceloteh bahwa punk-ska dan
berbagai sub alirannya tak bakal bangkit lagi
karena perkembangan sosial-budaya masyarakat
yang kian kompleks dan canggih, sehingga tak
lagi memberi tempat untuk musik-musik sederhana
dan vulgar. Maka kalau toh ada aliran yang
paling bias diharapkan unutk bangkit lagi dari
genre musik rock, itu adalah art rock yang
sempat berjaya di dekade 1970-an. Inilah mengapa
kebanyakan pengamat dan praktisi industri musik
rock sangat berharap munculnya band-band baru
reinkarnasi dari kelompok-kelompok kondang di
tahun 1970-an seperti ELP, Pink Floyd atau Yes.
Pandangan
yang serba meleset dari para penguasa musik
itulah yang membuat para pelopor punk-ska di
tahun 1990-an harus hidup terlunta-lunta
lantaran tak diberi kesempatan masuk dapur
rekaman. Nama-nama besar aliran ini pada dekade
1990-an seperti
Green Day, Silverchair, Radiohead,
Blur, No Doubt dan lain
sejenisnya pun tak terkecualikan. Mereka harus
menderita pada awal karir mereka. Sebagaimana
umumnya para punkrockers di Indonesia, para
pemusik 'bule' yang sekarang sudah menjadi para
jutawan itu mulanya harus bingung mencari tempat
latihan sendiri, merekam sendiri dan mengedarkan
sendiri kaset atau CD mereka.
Lihat
saja apa yang pernah dialami kelompok
No Doubt, yang sudah kondang ke seluruh
dunia antara lain lewat lagui
Don't Speak
dan kini mejadi rebutan para major label. No
Doubt, yang dibentuk pada 1987 sebagai band
punk-ska di kawasan Annaheim di Los Angeles,
California, awalnya rajin manggung tanpa peduli
pada honor dan prestise. Alhasil, setelah
menunggu selama empat tahun, sebuah major label
bernama Interscope Records, mengizinkan kelompok
ini masuk dapur rekaman pada 1991.
Namun,mengingat
pengalaman tenggelamnya punk-ska di tahun
1980-an, Interscope lantas menolak untuk
mensponsori tour dan rekaman No Doubt lebih
lanjut. No Doubt pun lantas nekad dengan merekam
sekaligus mengedarkan sendiri lagu-lagunya pada
tahun 1994. Album ini berjudul
The Beacon Street Collection
dan jauh lebih kasar dan lebih berwarna punk
ketimbang hasil perkomplotannya dengan
Interscope. Melihat besarnya perhatian publik
pada No Doubt, Interscope akhirnya mengizinkan
kelompok yang mengandalkan vokalis cewek bernama
Gwen Stefani untuk rekaman lagi. Maka lahirlah
album
Tragic Kingdom
pada
Oktober 1995, yang kemudian
menggaet posisi puncak album chart di Amerika di
akhir 1996.
Namun,
bagaimana pun juga, tokoh yang paling kerap
disebut sebagai sebagai 'Bapak' punk dekade
1990-an adalah
Kurt Cobain, vokalis sekaligus pemimpin
kelompok
Nirvana. Para pengamat dan praktisi
industri musik pun tak segan untuk menyebut
Nirvana sebagai band grunge dengan multiplatinum
yang sukses membangkitkan kembali punk dengan
berbagai jenis alirannya di tahun 1990-an.
Tampilnya Cobain yang sampai sekarang masih
dipuja oleh sangat banyak punk-ska rockers, ,
menyebabkan punk pada dekade 1990-an nyaris tak
beda dengan penduhulunya di dekade sebelumnya.
Maklum, Cobain sendiri adalah pengagum berat
kelompok
Sex Pistols, biang punkrock di tahun
1980-an. Bahkan Cobain pernah mengaku bahwa Sex
Pistols telah memberinya inspirasi dan motivasi
yang kuat untuk bermain band. Hingga
terbentuknya Nirvana pada 1986. Perlu dicacat,
Sex Pistol kondang sebagai biang punk di daratan
Ingrris dan seluruh Eropa. Band ini pernah
membuat heboh seantero daratan Inggris karena
merilis sebuah lagu pelesetan berjudul
God Save the Queen.§
Baca
artikel lengkapnya di majalah NewsMusik. PESAN
|