.:: Topikita

Menjadi Profesional Lewat Sekolah Musik

Newsmusik Edisi 10 / 2001 –  Nini, Gideon, Hakim, Baroc, Meuthia, Kristanto & Bens

 

 

Banyak musisi Indonesia hanya mengandalkan pengalaman. Otodidak, katanya. Yang berpendidikan formal, apalagi belajar musik di luar negeri, bisa dihitung dengan jari. Tapi, penting nggak sih belajar jauh-jauh?

PENGORBANAN ORTU
Amerika, pusat musik dunia dan yang barusan digemparkan aksi teroris, begitu menggoda para musisi muda kita. Silih berganti mereka menuju ke sana. Siapa saja mereka? Sukseskah? Siapa kira, atraksi gigit dawai gitar di atas pentas seperti foto di atas ini, dilakukan oleh musisi belia? Terbilang sangat belia, malah! Baru 18 tahun. Rama Satrya, namanya. Tongkrongannya memang ‘cukup dewasa’. Ia gitaris, sekaligus vokalis, sambil sesekali memainkan harmonica. Media ekspresi musik yang dipilihnya, beserta adik-adiknya, blues!

Sejak beberapa tahun silam, Rama aktif berburu ilmu dengan menyambangi banyak gitaris-gitaris senior di Indonesia. Demikian pula dengan kedua adiknya, Arya (keyboardist/bassist) dan Joshua (drummer) yang menuntut ilmu pada banyak keyboardist dan drummer lokal. Namun, 8 September silam ketiganya bertolak menuju Boston. Rencananya Rama dan Arya masuk Berklee College Of Music, Boston. Joshua, 13 tahun, untuk sementara tetap meneruskan sekolah SMP-nya.

Para personil Jaque Mate Blues Brothers Band ini cabut ke Boston demi meneruskan karir musik. “Mereka akan sekolah, sambil berusaha dapat job-job main di clubs. Saya juga akan berusaha agar debut album mereka dapat dirilis di sana. Ini langkah awal dari perjuangan panjang. Anak-anak punya bakat, karena itu harus didukung dengan keinginan kuat,” terang Richard Claproth Phd, sang ayah, yang menemani ketiganya pergi ke Boston.

Rama segera masuk Berklee mengambil jurusan khusus, Hendrix Laboratories. Sementara Arya, untuk sementara mengambil dulu summer college, di sekolah yang sama. Keduanya bisa masuk sekolah bergengsi itu karena, ”Kami dapat beasiswa yang ditawarkan orang Berklee. Tahun lalu mereka melihat permainan kami di Jakarta. Kebetulan di sana ada jurusan khusus Hendrix Laboratories, yang sesuai dengan selera Rama. Arya sendiri memilih music performance untuk keyboard,” kata Arya dan Rama berbarengan.

Keluarga ini memilih Amerika, “Alasan utama, karena anak-anak memilih memainkan blues. Berarti sekalian saja ke pusat musik blues dunia, sekalian saja ke pusat musik blues, mana lagi kalau bukan di Amerika? Biarlah mereka mendapat pendidikan musik yang terbaik, sambil meraih pengalaman sebanyak-banyaknya. Sukses atau tidaknya nanti, dalam karir musiknya, biar waktu yang membuktikan,” kata ayahnya, yang kabarnya akan jadi pengajar di Harvard University. Pak Claproth sendiri harus pula meninggalkan bisnis café bluesnya yang dahsyat, BB's di Menteng, demi anak nya.

Berani mengambil keputusan macam ini juga dilakukan almarhum Jack Lesmana dan Nien Lesmana isterinya, tatkala putera mereka, Indra Lesmana yang jenius, ditawari beasiswa dari jazz studies di Australia. Waktu itu tahun 1980-an, Indra yang mulai menulis lagu pada umur 8 tahun, waktu basiswa datang baru berusia 13, “Ayah mengambil keputusan yang berani, padahal keluarga kami harus menjual rumah di jalan Melati dan salon Mama di tempat yang sama. Rumah Ayah ini sekaligus sekolah musik bagi para jazzer muda. Sewaktu saya pulang dari Amerika setelah melanjutkan program beasiswa Australia itu, keluarga kami benar-benar tak punya apa-apa, “cerita Indra Lesmana.§

Baca artikel lengkapnya di majalah NewsMusik 10 / 2001. PESAN