.:: Topikita

WORLD MUSIC: Kiblatnya di Timur, Eksplorasi "Orang Barat"

Newsmusik Edisi 12 / 2000Gideon Momongan & Bens Leo

Musik etnik itu ibarat barang antik. Ia terkesan kuno, tapi dianggap memiliki nilai seni mahal. Karena itukah apresiasinya hanya bisa dinikmati ‘asing’ dan segelintir orang kita? Sejauh mana eksplorasi musikalnya? 

Harry Roesli bilang, jika kiblat umat Islam ada di Mekkah, maka kiblat musik etnik - atau setelah dieksplor dengan ‘musik Barat’ populer dengan nama world music - ada di seluruh belahan bumi. Di Timur, basis kerja eksplorasinya ada di India, Pakistan, Jepang, Tibet, Cina dan Indonesia, sedang di luar Asia, motornya ada di Afrika. Indonesia sendiri ‘tajir’ bener dengan kekayaan budaya daerah, komplet dengan adat-istiadatnya. Kenyataan ini, sepintas terdengar membanggakan. Tapi juga mengandung ironi menyedihkan. Bagaimana tidak? Justru di tengah negeri yang kaya dengan ragam budaya tersebut, penggarapan dan penghargaan terhadap musik etnik terasa langka. Bukan hal aneh lagi, jika musik etnik asal Indonesia belum (sepenuhnya) merasa dimiliki oleh bangsa sendiri. Ini kabarnya, semata-mata lantaran orang kita masih lebih suka melihat wajah bule, dan mendengar dentaman musik diatonis, ketimbang menyimak musik pentatonis yang perkusif yang cenderung eksotis dan sakral. 

Keliling Jagat

Ini memang soal perbedaan selera. Kebanyakan orang kita selalu menganggap apa yang dibuat oleh musisi Barat - orang terlanjur menyebutnya bule - selalu lebih eksklusif, lebih prestisius. Padahal kebalikannya, sebagian besar bule yang bosan dengan nada diatonis, mulai mencari dan ‘menemukan’ nilai-nilai musik baru dari berbagai pelosok dunia. “Jadi, tidak perlu heran, musik etnik milik salah satu suku di Irian Jaya yang tidak pernah kita dengar, malah sudah muncul dalam bentuk rekam CD di Amerika, Jepang dan Perancis,” ungkap Sapto Raharjo, pemusik kontemporer yang gemar menelusup ke dunia musik etnik. Karya-karya musik Sapto juga lebih terkenal di Perancis, ketimbang di negeri kelahirannya sendiri. Begitu juga dengan Yusi Ananda, penyanyi pop yang sudah merilis tiga album. Selain asyik berkarya di musik pop, putra Kalimantan ini diam-diam sangat agresif mengembangkan musik etnik dari daerahnya. Oktober ini Yusi akan melepas album Dayak yang direkam di home studio-nya di Samarinda, lewat indie label di Belanda.

Dan satu hal yang mencengangkan adalah, ada seorang seniman tradisional Aceh bernama Marzuki, yang suaranya sengaja direkam Michael Jackson. Bahkan lain waktu, Pak Marzuki ini pun sempat membuat Peter Gabriel terkagum-kagum. Ini cerita Gilang Ramadhan, yang mengajak Pak Marzuki mendukung rekaman album world music miliknya dan kata Gilang, “Saking lugu atau mungkin ia memang tidak terlalu peduli, Marzuki bercerita tentang pengalaman itu dengan muka biasa saja, tanpa ekspresi sombong atau bagaimana gitu!

Hal yang sama pernah terjadi pada rombongan Agung Raka dari desa Teges Bali, yang harus promo tour untuk album Bali Agung bersama rombongan gong dan tarinya di Jerman, eh ia ‘keleleran’, karena tak paham soal kontrak sebagai musisi profesional. Padahal album Bali Agung garapan Agung Raka - Eberhard Schoener (Jerman ) itu termasuk ‘monumental’.
Peluang emas musisi Indonesia untuk go international .......
§

 

Baca artikel lengkapnya di majalah NewsMusik 12 / 2000. PESAN