Hits

 

.:: Topikita

Wisata Studio Rekaman Musisi

Newsmusik Edisi 04 / 2000 Baroc Mardian, Gendra Martanegara, Hakim Moesthaff, Gideon Momongan, Nini Sunny & Bens Leo

Pada tahun 70-an, banyak calon mertua memandang sebelah mata pada pria yang terjun di dunia musik. Profesi sebagai penyanyi dan musisi dianggap aib dan harus di- jauhi anak perempuan mereka. Artis dianggap tidak memiliki masa depan cerah, lantaran sebagian besar dari kehidupan mereka cuma bergantung dari dunia panggung dan rekaman. Padahal, penghasilan dari dunia rekaman belum seberapa. Belum lagi pada jaman itu musik panggung punya problem besar: sangat rawan penipuan, sebab banyak promotor yang masih gemar ingkar janji dalam hal pembayaran honor. Akibat dari kondisi tersebut, banyak orang tua tahu persis bahwa yang namanya artis (musik) itu “kere”, terlebih lagi jika mereka belum “punya hobi” menabung. Jadilah istilah madesu “masa depan suram” melekat pada artis dunia musik pada jaman itu.

Sampai pada periode tahun 1980-an, hanya segelintir artis musik yang mendapat tempat layak karena kualitas kerja mereka dan gengsinya menjadi naik karena penapatan dari dunia musik yang membaik. Mereka adalah kelompok musisi yang tergabung dalam God Bless, lantas Fariz RM, Chrisye, Mus Mujiono, Pantje Pondaag, Erwin Gutawa dan beberapa nama lain. Mereka bukan hanya piawai dalam menghasilkan musik tapi juga bisa hidup dari dan dalam bisnis musik. Dengan hobi menabung mereka kemudian melakukan investasi besar di bidang musik antara lain dengan membuat persewaan alat musik, studio latihan bahkan studio rekaman.

Alasan Utama : Tidak Mau Diatur

Para musisi yang namanya disebut di atas tadi, punya alasan berbeda dalam mendirikan studio rekaman. Salah satunya adalah untuk mempermudah proses kreativitas mereka sendiri. Seperti cerita Mus Mujiono, “Dari dulu aku memang sudah punya obsesi untuk bikin studio. Karena pada dasarnya, aku ini nggak mau diatur dalam berkarya. Soalnya pada jaman dulu, produser itu bisa seenaknya memerintah kita dalam menghasilkan karya. Misalnya harus musik beginilah, begitulah. Nah, kalau aku ikutin mereka terus-terusan karirku bisa kacau,” katanya.
Bisa masuk di akal alasan yang dikemukakan Mus Mujiono tersebut. Sebab kalau kita mau kilas balik lagi ke belakang, pada jaman baheula, yang namanya pemilik perusahaan rekaman selalu bertindak pula sebagai produser. Alhasil, hanya nama-nama tertentu yang bisa masuk dapur rekaman. Dan lebih “sadis” lagi hanya trend musik tertentu - dalam hal ini yang sesuai dengan selera musik sang produser - yang bisa direkam dan diedarkan. “Hati kecilku berontak dengan kondisi macam itu. Apalagi jaman itu namaku ada di bawah bayang-bayang abangku, Mus Mulyadi. Kayaknya aku harus berjuang keras menjadi diri sendiri. Dengan memiliki studio sendiri, aku berharap kerjaku bisa lebih maksimal,” ungkap Mus Mujiono tentang asal muasal Studio Mus, yang terletak di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat. Lokasi studio Mus ini berada di dalam rumah tinggalnya.

Lokasi studio rekaman satu pagar dengan rumah tinggal memang menjadi trend baru para musisi di era 1990-an. Selain Mus Mujiono, Andi Ayunir, Dwiki Dharmawan (Studio Kita), Iwang Noorsaid, Fariz RM, Gilang Ramadhan (Kantong Studio), Riza Arsyad, dan yang paling baru I Dewa Budjana. Sementara Dwiki Dharma- wan, khusus membeli rumah di komplek Bintaro Jaya - satu lokasi dengan tempat tinggalnya untuk dijadikan studio.

Dulu Indra Lesmana dengan (Studionya Indra) juga begitu. Tapi belakangan, Indra memindahkan studio itu untuk digabungkan dengan studio Gilang Ramadhan. “Tapi tidak lama, karena antara aku dan Gilang kemudian timbul perbedaan visi. Aku pun memindahkan studio milikku ke Pondok Pinang,” kata Indra Lesmana yang belakangan bekerja sama dengan Sri Aksan Syuman dan Humania untuk studionya Suara Bumi. Bahkan, perkongsian menghasilkan studio lain di kawasan Puncak, Jawa Barat yang sudah berjalan dan dikelola Heru dan EQ “Humania”.

Kenapa harus dalam rumah? Jawaban paling ampuh dan sederhana bisa kita dengar dari Mus Mujiono. “Yang namanya ide bisa datang kapan saja. Dan dalam lima menit harus segera direalisasikan. Kalau tidak, bisa hilang begitu saja. Nah, karena itulah lokasi studio ini aku letakkan di dalam rumah,” katanya antusias. Yang unik, tidak semua musisi itu belakangan “betah” bekerja dalam studio pribadinya tersebut. Iwang Noorsaid yang tengah menggarap album Iwan Fals - contohnya. Karena lokasi tempat tinggal sekaligus studio itu terletak di kawasan Batu-raja, Dukuh Atas, Jakarta Pusat yang masuk kategori rawan sarang narkoba, maka ia belakangan memilih lebih banyak menyewa studio milik musisi lain, dan A System termasuk yang paling sering dikunjunginya. Sementara studio pribadinya lebih banyak ditinggal. “Kalau ada proyek kecil atau untuk mengerjakan musik dasar, saya masih menggunakan studio itu,” kata Iwang, yang merupakan rekan kongsi pertama Gilang Ramadhan saat membuka Kantong Studio sebelum masuk- nama Indra.

Namun studio bersatu di tengah kawasan rumah tinggal bukan berarti sama sekali tidak menimbulkan masalah, protes tetangga lantaran berisik dan jalanan jadi macet karena banyak parkir kendaraan adalah persoalan umum. “Biasanya untuk parkir gue akalin sebaik mungkin dan gue atur biar di rumah nggak kelihatan sedang ada kegiatan,” kata Gilang sambil tergelak.

Peralatan Serba Nyicil. ...........§

Baca artikel lengkapnya di majalah NewsMusik. PESAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

+

Bursa

 

ChordMusik

 

 

Moslem fm 98,8

Bumbu Restaurant & Cafe

Majalah Nirmala

Headline Creative Communication

Baskin Robbins

NewsCafe

 

 

 

 

©2000 majalah NewsMusik.All Rights Reserved.
Created & Design by NewsMusik.net Development Team.
Comments, suggestions and critics please contact
webmaster newsmusik.net