Lirik
Lagu Bikin Laku
Newsmusik Edisi
04 / 2001 –
Nini Sunny, Gideon Momongan & Bens Leo 
Lirik berfungsi sebagai roh sebuah nyanyian. Ia bisa menyuarakan cinta yang mengharu biru, atau bisa pula berisi protes dan kontrol sosial. Topikita kali ini bicara proses kreatif lahirnya sebuah lirik dari jaman ke jaman. Lalu, bagaimana dengan sukses Reborn yang langka lirik
itu? Orang awam bilang, sebuah lagu cinta bisa menyentuh perasaan, apabila liriknya bercerita tentang kisah yang mirip dengan persoalan yang pernah mereka rasakan. Banyak lagu yang laku dan menjadi hits saat ini memakai konsep pembuatan lirik macam itu. Di antaranya Dewa, Sheila on 7, Padi, Melly Goeslaw, KLa Project & Katon Bagaskara, Jamrud, PAS Band dan lain-lain.
Namun, ada hal unik jika kita mengamati soal lirik cinta dari jaman ke
jaman. Terasa ada pola penulisan ekspresi perasaan yang
berubah, sesuai etika dan estetika sebuah jaman. Lagu cinta tahun 1945, terasa sangat
santun, penuh personifikasi alias perumpamaan (perlambang), misalnya alam dan rembulan menjadi saksi sumpah
setia.
Pola penulisan ini masih berlanjut sampai era
Titiek Puspa, Titiek Hamzah dan Eros Djarot produktif menulis lagu di tahun 1977 untuk album
Badai Pasti Berlalu
(BPB). Eros pantas dicatat tersendiri, karena pola pemilihan kata dalam
liriknya, terasa sangat puitis. Ambil contoh lagu
'Merepih Alam' yang
berbunyi; //Merepih alam, di malam// Berselubung kabut
kelam// Wajah pun meredup tercermin haus cahaya// Meremang gulana menatap reruntuhan dalam
duka//
Ketika album BPB
dirilis, sempat muncul istilah, bahasa Indonesia yang dipilih Eros
'ketinggian' untuk ukuran penggunaan bahasa jaman
itu. Bahkan bisa jadi sampai hari ini pun, predikat itu belum lagi
luntur. Kepintaran Eros kemudian jadi fenomena sejarah penulisan lirik lagu pop. Terutama setelah album BPD masih tetap dicari orang hingga hari
ini, pun ketika album itu direproduksi
Chrisye dan Erwin Gutawa. Tak ada kesan penggunaan kata yang
'basi' . Padahal itu diciptakan 23 tahun lewat.
Dalam sampul kaset BDB versi baru Chrisye menulis, “Karya yang indah tidak akan pernah lekang dimakan
jaman. Ia akan tetap dapat memenuhi kebutuhan estetika batin
manusia, meskipun dinikmati dan diapresiasi berpuluh tahun setelah lahirnya karya
tersebut, serta oleh kelompok penikmat yang
berbeda.”
Masih di tahun 70-an,
Ebiet G. Ade, dari Yogya, muncul dengan superhits lagu
'Camelia'. Sementara
Franky Sahilatua bersama adiknya Jane dari Surabaya mempopulerkan lagu
'Musim Bunga'. Waktu itu lirik Franky banyak dikerjakan bareng Yudhistira Ardi Noegraha menguatkan istilah musikalisasi puisi atau puisi yang
bernyanyi. Istilah itu sebetulnya sudah diperkenalkan sejak kelompok Bimbo dari Bandung bekerja sama dengan Iwan Abdulrachman dan yang
terbanyak bersama drh. Taufik Ismail. Pada saat
itu, kolaborasi mereka menciptakan istilah: penulis
(melodi) lagu kasihlah gitar, penyair kasihlah
pena. Perumpamaan ini ujungnya banyak melahirkan lagu hits yang puitis dan
abadi, antara lain
'Melati Dari Jayagiri' dan
'Tuhan'.
Mengadopsi Kisah Orang Lain
Lantas bagaimana lahirnya sebuah
lirik? “Ia bisa pengalaman pribadi, atau mengadopsi kisah orang lain,” ungkap
Katon Bagaskara. Di tengah itu kadang muncul pula pengaruh karya orang lain.
Ahmad Dhani tanpa malu menyebut, lirik 'Kangen', terpengaruh lagu
White Lion bertajuk 'You All I
Need'. Tapi, Dhani mengaku sulit menceritakan proses penciptaan
sendiri. “Saya bukan tipe penulis yang memerlukan pergi ke tempat
khusus, seperti ke Puncak atau ke hotel untuk
menyepi. Apalagi harus pakai ziarah segala. Saya menulis lagu di mana
saja, bahkan bisa sedang di kamar mandi,” tutur
Dhani,
nominator Penulis Lirik PAMI 2001.
Namun Dhani
mengaku, pilihan kata saktinya bisa didapat dari menyimak pembicaraan orang
didekatnya. “Saya mencatat dan menyimpannya. Ketika bikin
lagu, dokumen itu saya buka lagi. Kadang, saya tertegun
sendiri, kok bisa menyatukan kata-kata seperti
itu,” ungkapnya lagi. Lirik cinta karya Dhani seolah ingin
menampilkan lirik cinta secara terbuka, tidak malu-malu seperti pengungkapan cinta di masa
lalu. Satu contoh pada lagu
'Cemburu' yang termuat dalam album
*****, Dhani menulis
begini; //Ingin Kubunuh Pacarmu// Saat dia cium bibir
merahmu// Di depan kedua mataku///Hatiku terbakar jadinya…//Cantik… aku
cemburu//.
Gila!
Edan! Tak masuk akal! Jika lirik macam itu lahir di tahun 60-70-80-an. Mana ada lagu yang jelas-jelas menyiratkan perasaan
cemburu, bahkan sampai tercetus ingin membunuh, bisa lolos sensor dan disiarkan secara terus menerus di berbagai radio dan
televisi? Tetapi barangkali itulah tanda dari reformasi
jaman. Setiap jaman menyimpan identitasnya
sendiri.
Kebalikan dari
Dhani, Katon Bagaskara, yang menulis sekitar 90% lirik KLa Project,
menyebut, ............§
Baca
artikel lengkapnya di majalah NewsMusik. PESAN
|